Powered by Blogger.

 Content and Images Copyrights by KBS2

Sinopsis Hwarang Episode 15 - 2


Ahn Ji pergi ke desanya Woo Reuk dimana Woo Reuk menunjukkan rumah yang dulu ditinggali Mak Moon dan Sun Woo. Dia memberitahu kalau dulu Sun Woo tidak punya nama jadi mereka memanggilnya Moo Myung, tapi pada akhirnya dia dijuluki Anjing-Burung. Ahn Ji penasaran apa maksud ucapan Woo Reuk kalau dia sudah membuka gerbang takdir.


"Apa aku mengatakan itu? Di dunia ini, tidak ada yang namanya kebetulan. Kenapa aku kebetulan membesarkan putramu dan anak itu?"

"Apa maksudmu?"

"Menurutmu... siapa anak itu?"


Putra Mahkota Chang terus menghajar Sun Woo sekuat tenaga. Tapi saat dia memutuskan untuk mengakhiri pertarungan ini, Sun Woo langsung balas menghajarnya, menolak mengakhiri pertarungan ini begitu saja.

Mereka saling adu jotos sampai keduanya sama-sama terjatuh lemas ke tanah. Tapi Sun Woo masih punya kekuatan untuk bangkit dan balas menghajar Putra Mahkota Chang sampai Putra Mahkota Chang tak sanggup lagi.


Dalam ingatannya, ternyata hasil dadu yang dilempar Sun Woo adalah kombinasi angka 12.


Sun Woo terhuyung lemas saat dia bangkit dan meneriakkan kemenangannya. Saat Putra Mahkota Chang membuka matanya kembali, Sun Woo menghunuskan pedang ke lehernya, "Apa kau mengaku kalah? Tepati janjimu"


Para prajurit membantu Putra Mahkota Chang bangkit dan menyatakan kalau dia tidak akan berperang melawan Silla dan para utusan dibebaskan. Tapi dia menolak membebaskan rakyat Silla dan mengklaim kalau mereka adalah penjahat yang telah mencuri dari tanah Baekje.  Jadi mereka harus membayar kejahatan mereka dengan nyawa mereka. Para tahanan termasuk A Ro langsung digiring kembali ke penjara sementara Sun Woo dan yang lain tak berdaya menolong mereka.


Soo Ho dan Ban Ryu menyarankan Sook Myung untuk meninggalkan Baekje sebelum Putra Mahkota Chang berubah pikiran. Yang jadi masalah, di mana Sun Woo dan Ji Dwi sekarang?

Sun Woo tengah mempelajari area sekitar penjara tempat A Ro ditahan saat Ji Dwi menghampirinya dan bertanya apa Sun Woo berencana mengeluarkan para tahanan seorang diri. Sebaiknya Sun Woo melupakan ide itu, jika Putra Mahkota Chang tahu kalau Sun Woo berusaha menyelamatkan A Ro maka A Ro akan mati.

"Lalu apa yang harus kulakukan?" tuntut Sun Woo.


Para utusan pun akhirnya pamit. Hanya Jenderal yang keluar mengantarkan kepergian mereka dengan alasan keadaan Putra Mahkota sedang tidak baik. Sook Myung menitip pesan bahwa dia senang mereka telah membangun persekutuan dengan Baekje. Jenderal berjanji akan menyampaikannya lalu membungkuk hormat pada Sook Myung dan Sun Woo. Para utusan pun pergi.


Di penjara malam harinya, A Ro dilabrak si tahanan. A Ro bilang kalau Raja tidak akan membiarkan mereka mati, tapi nyatanya mereka semua sudah melarikan diri. Apa yang akan A Ro lakukan sekarang? Dia begitu marah sampai hendak menyerang A Ro tapi seorang tahanan wanita melindungi A Ro.

A Ro tetap berusaha optimis dan menyemangati mereka untuk tidak kehilangan harapan. "Bahkan sekalipun kita mati, mati tanpa harapan itu tidak berperikemanusiaan. Selama kalian masih hidup, kalian harus berusaha semampu kalian. Yang bisa kita lakukan saat ini adalah bersiap"

Apa maksud A Ro dengan bersiap? "Bersiap untuk apa?"

"Bersiap untuk melarikan diri begitu ada kesempatan. Bersiap untuk hidup dengan baik begitu kita pulang. Bersiap untuk kembali bahagia. Karena itulah, bahkan sekalipun kita mati... tolong jangan kehilangan harapan"


Seorang prajurit tengah berjaga saat tiba-tiba saja muncul dan menghantam kepalanya sampai pingsan. Sun Woo pun bergerak cepat menghajar penjaga satunya. Melihat situasi luar penjara, Ji Dwi menginstruksikannya untuk mengeluarkan tahanan tanpa ketahuan, tapi apa Sun Woo bisa melakukannya dalam kondisi seperti ini?


Sun Woo tak menjawabnya dan langsung bergerak, mengendap-endap sepelan mungkin dan bekerja sama melumpuhkan setiap prajurit yang mereka temui dengan cepat. Begitu sukses masuk kedalam penjara, mereka pun langsung melepaskan semua tahanan. Tapi saat mereka keluar, mereka langsung dikepung dari kedua sisi dengan dipimpin oleh Jenderal.


"Putra Mahkota sudah bermurah hati membiarkan utusan Silla pulang. Bagaimana bisa kalian melakukan sesuatu sekeji ini?"

Ji Dwi mengingatkan Jenderal kalau mereka datang demi perdamaian tapi Putra Mahkota Chang malah mengurung mereka dan mengancam mereka. "Jika Baekje tidak menginginkan perang melawan Silla maka sebaiknya kalian berhenti sampai di sini. Kami akan mengambil rakyat kami sebagai tanda kesepakatan damai dengan Baekje."


Tapi tentu saja Jenderal malah meremehkannya dan langsung memerintahkan anak-anak buahnya untuk menyerang. Saat Sun Woo dan Ji Dwi berjuang melawan para prajurit itu, Soo Ho dan Ban Ryu muncul membantu mereka. Sun Woo memerintahkan mereka untuk membawa para tahanan pergi sementara dia dan Ji Dwi melawan para prajurit.


Setelah semua orang itu berhasil lolos, Jenderal melapor ke Putra Mahkota Chang. Tapi semua ini ternyata memang sudah direncanakan oleh Putra Mahkota Chang. Dia sengaja memerintahkan agar para tahanan dibawa lari oleh para Hwarang, jadi sekarang saatnya berburu.

"Binatang buas didalam hutan, harus ditangkap oleh pemburu"


Para Hwarang mengawal semua orang melewati tanah lapang di tanah perbatasan. Tapi saat semua rakyat bersorak kegirangan mengira mereka sudah aman, sebuah panah tiba-tiba melesat tepat ke dada seorang pria. Satu panah diikuti oleh panah-panah lainnya dan rakyat pun berjatuhan. Para Hwarang melihat Putra Mahkota Baekje dan para prajuritnya menembakkan anak-anak panah pada mereka dari kejauhan.


Tapi kemudian Soo Ho melihat Putra Mahkota Baekje menarik busurnya kembali dan targetnya adalah Sun Woo. Soo Ho kontan panik dan langsung memacu kudanya, menjadikan dirinya sebagai tameng melindungi Sun Woo, Soo Ho pun langsung terjatuh dari kudanya.


Jenderal cemas karena mereka terlalu dekat dengan tanah perbatasan Silla. Tapi Putra Mahkota Chang tidak peduli dan memutuskan untuk mengakhiri perburuan ini lebih cepat. Mereka pun langsung maju dan mulai menembaki rakyat Silla, seorang tahanan wanita yang waktu itu melindungi A Ro juga tertembak.

A Ro sontak panik tapi tak berdaya menolongnya. Dengan sisa kekuatannya, wanita itu hanya bisa berujar mencemaskan putranya yang masih kecil sebelum akhirnya menghembuskan nafas terakhirnya.


Prajurit Baekje sukses mengepung mereka. Putra Mahkota Chang tersenyum puas penuh kemenangan. Dia memanggil Sun Woo sebagai Raja Jinheung dan menyarankannya untuk mengakhiri pertarungan mereka.


Sun Woo menantangnya untuk bertarung satu lawan satu lagi. Tapi Putra Mahkota Chang menolak, kali ini adalah pertarungan tim. Dia tidak niatan untuk melepaskan mereka hidup-hidup. Jelas saja rakyat Silla langsung panik.

Mendengar kepanikan mereka, Sun Woo dengan berteriak lantang "Mereka adalah rakyat Silla. Bagaimana bisa Raja membiarkan mereka mati?"

Ji Dwi seperti merasa tertohok mendengar ucapan Sun Woo itu. Putra Mahkota Chang menyatakan kalau dia juga tidak akan membiarkan Sun Woo hidup karena dia sudah membebaskan para tahanan yang mencuri di tanah Baekje. Sun Woo langsung menghunus pedangnya, "Lakukan apapun yang kau bisa. Aku akan menghentikan semuanya"


Putra Mahkota Chang menerima tantangannya. Jenderal pun mulai memberi aba-aba untuk menyerang. Tepat saat dia hendak menggerakkan tangannya, sebuah panah tiba-tiba menancap ke tangannya. Beberapa panah lainnya melesat, menembaki para prajurit Baekje.

Semua orang sontak menoleh ke belakang dan mendapati pasukan Hwarang dan Nangdo berlari ke arah mereka dengan dipimpin Ui Hwa. Jenderal mengenali mereka sebagai Hwarang. Para Hwarang dan Nangdo berbaris melindungi rakyat Silla, Soo Ho dan Ban Ryu pun tersenyum bangga dengan teman-teman mereka.


Ui Hwa mengomeli Ji Dwi dan Sun Woo, "Kalian seharusnya Hwarang, tapi kalian terlihat buruk. Tapi diatas semua itu, aku bangga karena kalian adalah Hwarang-ku"


Pada Putra Mahkota Chang, Ui Hwa berkata "Aku tidak tahu siapa kalian, tapi saat ini kalian berada di tanah Silla. Jelas kalian tersesat saat berburu. Kalian mungkin bisa disalahpahami kalau kalian mau memulai perang. Apa anda Putra Mahkota Baekje dan mengejar Hwarang kami yang pergi ke Baekje tanpa pasukan demi perdamaian? Jika bukan ini atau itu, maka anda pasti para bandit sedang sial. Bagaimana? Mau lihat kemampuan Hwarang kami?"

Ui Hwa langsung memberi aba-aba, Hwarang dan Nangdo pun langsung bersiap angkat senjata. Jenderal menyarankan Putra Mahkota untuk pulang saja, sekarang bukan saat yang tepat. Putra Mahkota Chang terpaksa mengalah dan mengklaim kalau dia tak sengaja melewati perbatasan saat berburu.


Pada Sun Woo dia berkata kalau sekarang mereka akan berpisah dengan meninggalkan hutang. "Tapi, jika kita bertemu lagi. Aku... akan menyelesaikan perburuanku, Raja Jinheung."

Pasukan Baekje mundur, Rakyat Silla pun bersorak bahagia.


Di istana, Tuan Kim menghadap Ratu dan mengucap selamat, segalanya berjalan sesuai harapan Ratu dan semuanya kembali dengan selamat. Tapi Tuan Kim penasaran, apakah 'Hwarang yang itu' benar-benar Baginda Raja. Rumor mengatakan kalau Sun Woo adalah Raja, raja yang sebenarnya yang akan membuat Silla kuat. ratu tak menjawab.


Woo Reuk dan Ahn Ji pergi ke daerah yang terkena wabah penyakit. Tapi saat Woo Reuk bekerja keras, Ahn Ji malah termenung seperti orang linglung. Dia baru sadar untuk bergerak saat Woo Reuk menegurnya. Melihat wabah sudah semakin parah, Ahn Ji memberitahu Woo Reuk kalau mereka perlu obat. Tapi sepertinya itu sulit, bahkan Ibukota pun kekurangan obat.


Di gudangnya, Park Young Shil tampak menimbun berpeti-peti besar obat. Tapi dia diberitahu si Penjudi kalau semua utusan kembali dengan selamat dan mereka bahkan menyelamatkan rakyat Silla yang ditahan. Si Penjudi langsung berlutut mohon ampun. Park Young Shil jelas kesal rencananya gagal.


Di Rumah Hwarang, para Hwarang makan dengan begitu lahapnya sambil ribut sendiri membahas aksi mereka. Bahkan Soo Ho pun memamerkan lengannya yang di-gips dengan bangga "Ini tidak ada apa-apanya. Seorang pria harus bisa menahannya."


Ji Dwi tidak ikut dalam keramaian itu dan merenung sendirian di luar, memikirkan saat rakyat Silla dibunuh di hadapannya dan saat Sun Woo maju mengakui dirinya sebagai Raja. Tak jauh darinya, dia melihat A Ro dan Sun Woo berjalan dari kedua sisi dan bertemu di tepi kolam.


"Aku sangat ingin memelukmu," aku Sun Woo.

A Ro ingin memeriksa lukanya. Tapi begitu A Ro mendekat, Sun Woo langsung menarik A Ro kedalam pelukannya dan meminta maaf karena mengabaikan A Ro. A Ro mengerti, Sun Woo melakukannya demi melindunginya. Ji Dwi mulai keheranan, pelukan mereka jelas tidak tampak seperti pelukan saudara.


"Aku serasa mau gila karena aku begitu ingin berlari padamu" Sun Woo melepaskan pelukannya dan berkata "Aku mencintaimu. Aku mencintaimu"

Sun Woo pun langsung mencium A Ro. Ji Dwi cuma bisa terdiam kaget dan menahan emosi menyaksikan kemesraan mereka.

Bersambung ke episode 16

9 comments

waduh... langsung patah hati sayaaa... nggak ku ku..

aduh.. langsung patah hati sayaaa.. nggak kuku

omegodd omegoddd aq pendukung Sun Woo - Aro

Huaaaaaa ending ep 15 nya bikin baper.. .kasian ji dwi nya.. ..😭😭😭😭😭

Kasian ji dwi, aduh jd tambah penasaran kelanjutannya gmn

Kasian ji dwi, aduh jd tambah penasaran kelanjutannya gmn

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon