Powered by Blogger.

Content and Images Copyrights by KBS2

Sinopsis Hwarang Episode 15 - 1

Sun Woo akhirnya terpaksa maju dan berteriak lantang mengakui dirinya sebagai Raja. Semua shock mendengarnya, tapi Putra Mahkota Chang meragukannya. Bagaimana dia bisa mempercayai Sun Woo?

"Anda sendiri yang menyuruhnku maju, jika anda tidak mau mempercayaiku maka tidak seharusnya anda meminta hal itu"

"Aku suka keberanianmu"



Sesaat kemudian, para Hwarang kembali ke penjara kecuali Sun Woo. Soo Ho gelisah mencemaskan Sun Woo sementara Ban Ryu sama seperti Putra Mahkota Chang, ragu kalau Sun Woo adalah Raja mereka. Tapi Soo Ho mempercayainya. Baiklah, anggap saja Sun Woo memang Raja. Tapi Ban Ryu pesimis, memangnya apa yang bisa mereka lakukan untuk menyelamatkannya? Tidak ada!

"Kita harus merobohkan gerbang dan berperang bersamanya!"

"Hwarang yang dikirim untuk mencegah perang, menyerang Baekje duluan. Itukah yang ingin kau dengar? Apa kau mau memicu perang"


Sementara kedua pria itu bertengkar, Ji Dwi masih terus diam memikirkan keberanian Sun Woo saat mengklaim dirinya sebagai Raja Silla.


Sun Woo duduk berhadapan dengan Putra Mahkota Chang. Sambil memainkan dadunya, Putra Mahkota Chang mengklaim kalau Sun Woo akan menang atau kalah dalam perang itu tergantung keberuntungan. Tapi belakangan ini Putra Mahkota cukup beruntung. Seseorang dari Silla mengirimnya emas yang sangat banyak dan memberitahunya kalau Raja Silla ada diantara para Hwarang.

Dia sungguh tak menyangka kalau Sun Woo akan maju, apa karena gadis cantik yang ada diantara para tahanan itu? Sun Woo menyangkalnya dan mangklaim kalau dia tidak mengerti apa maksud Putra Mahkota Chang.

Yah, terserahlah. Putra Mahkota Chang juga tidak peduli mau Sun Woo Raja Silla atau bukan. "Kau Raja atau bukan, aku akan membuatmu jadi Raja dan aku akan membuatmu bertekuk lutut di hadapanku."


Sun Woo mendengus sinis mendengarnya "Kuharap kau akan bersikap seperti seorang putra mahkota. Kau menyandera utusan perdamaian yang tak bersenjata dan ingin menelan Silla, siapa yang akan menganggapmu sebagai Putra Mahkota? Aku ragu kalau Raja Baekje, ayahmu, akan memujimu"

Sun Woo akan memberi Putra Mahkota Chang kesempatan untuk menyelamatkan mukanya sebagai calon Raja Baekje. Seperti yang dia tahu, tak ada seorang pun di Silla yang tahu wajah Raja. Jika Ratu menyatakan dirinya bukan Raja maka itulah kebenarannya, sementara Putra Mahkota Chang hanya akan jadi orang rendahan yang membantai utusan perdamaian. Karena itulah Sun Woo memberi Putra Mahkota kesempatan, kesempatan bagi mereka berdua untuk berduel secara jujur dan adil.

"Aku tumbuh ditengah-tengah medan perang yang kejam. Aku tidak pernah hidup dalam persembunyian sepertimu"

"Kita lihat saja siapa yang hidupnya lebih kejam"


Sook Myung tidak mempercayai klaim Sun Woo tadi, dia tidak percaya kalau Sun Woo adalah oraboni-nya. Walaupun Sun Woo mempertaruhkan nyawanya demi mengakui dirinya adalah Raja, tapi perasaannya mengatakan kalau Sun Woo bukan Raja.


Di penjara, A Ro termenung memikirkan saat Sun Woo. Tapi perhatiannya teralih saat dia mendengar suara tangisan seorang wanita. Seorang tahanan memberitahu A Ro kalau wanita itu adalah istri dari salah satu tahanan yang dibantai tadi. Semua orang disini ketakutan setengah mati, takut giliran mereka dibunuh. A Ro heran kenapa mereka ada di Baekje padahal mereka orang Silla.

"Apa pentingnya negara bagi orang-orang seperti kami? Makan dan bertahan hidup jauh lebih menakutkan"

A Ro meyakinkan mereka untuk tidak cemas, mereka pasti akan baik-baik saja. Mereka harus kuat agar bisa kembali ke Silla. Tapi para tahanan meragukannya, memangnya bisa Raja yang tak membawa prajurit itu menyelamatkan mereka?

A Ro memberitahu mereka bahwa dia mengenal baik orang yang mengaku sebagai Raja tadi, dia tidak akan membiarkan mereka mati. Mendengar itu, dua orang tahanan langsung menuntutnya untuk berjanji, jika mereka mati maka dia juga akan mati.

"Aku berjanji. Aku akan ada di sini bersama kalian," janji A Ro
 

Putra Mahkota Chang menerima tantangan Sun Woo. Kalau begitu apa yang harus dia lakukan agar dia mendapatkan kesempatan untuk mengalahkan Silla secara jujur dan adil. Jika mereka berduel satu lawan satu, maka orang-orang akan berpikir kalau Putra Mahkota Chang mengentengkannya. Jadi terserah saja, Sun Woo akan menerima apapun pilihan Putra Mahkota Chang.

Putra Mahkota Chang tersinggung, "Apa kau meremehkanku?"

"Mungkin"

"Apa kau percaya kalau kau adalah Raja? Maksudku, kau tidak pernah duduk di singgasana. Bagaimana kau menilai dirimu sendiri? Aku sangat penasaran"

"Jika binatang buas hidup seorang diri didalam hutan, apa mungkin dia akan lupa kalau dia adalah binatang buas?"

"Jika aku menang maka Putri tidak akan bisa kembali bersamamu dan para Hwarang yang datang bersamamu akan dipenggal bersama dengan semua rakyatmu. Tidak usah memperumit keadaan, biarkan saja pedang kita yang bicara"

"Aku setuju"


Sun Woo hendak beranjak pergi, tapi Putra Mahkota Chang menantangnya untuk main dadu dan mencoba peruntungan mereka. Dia mendapat kombinasi angka sebelas. Sun Woo dengan kesal melempar dadunya di depan muka Putra Mahkota Chang lalu pergi dengan diantarkan Jenderal-nya Putra Mahkota Chang tanpa lebih dulu melihat hasil lemparan dadunya.


Sun Woo berhenti di tengah jalan saat mereka melewati penjara tempat rakyat Silla ditahan termasuk A Ro. Jenderal hendak menyiapkan tempat khusus untuk Sun Woo beristirahat, tapi Sun Woo lebih memilih kembali ke penjara bersama para Hwarang.


Soo Ho langsung menanyakan keadaannya sebelum akhirnya menyadari kalimatnya dan menggantinya dengan kalimat yang lebih sopan. Ban Ryu masih tak percaya dan menuntut kebenaran.

Sun Woo membenarkannya, dia adalah Raja... setidaknya sampai mereka bisa keluar dari sini. Jadi apa maksudnya, dia bukan Raja setelah keluar dari sini? tuntut Ban Ryu. Sun Woo hanya akan memberitahukan kebenarannya begitu mereka sudah keluar dari tempat ini. Jika mereka hidup maka Raja juga akan tetap hidup.

"Lalu apa rencana anda..." Soo Ho tidak nyaman tiba-tiba harus bicara sesopan ini pada Sun Woo dan akhirnya memutuskan untuk bicara santai seperti biasanya "Apa recanamu?"

"Aku akan berduel... melawan Putra Mahkota Chang," ujar Sun Woo. Semua orang terkejut mendengarnya.


Saat kedua teman mereka sudah tertidur tak lama kemudian, Ji Dwi dan Sun Woo masih belum bisa memejamkan mata. Ji Dwi pesimis dengan duel ini, Putra Mahkota Chang sudah sangat terlatih melalui berbagai perang. Bagi orang sepertinya, mencabut nyawa orang itu tidak ada bedanya dengan permainan.

"Aku akan menang karena ada sesuatu yang harus kulindungi"

"Maksudmu adikmu?"

"Benar, dan juga orang-orang yang kelaparan dan ketakutan gara-gara negara mereka yang tidak berguna. Kau menyebut mereka 'rakyat'."


Pa Oh dan Pengawal Ratu menghadap Ratu Ji So untuk mengabarkan masalah di Baekje dan utusan Park Young Shil yang datang ke Baekje dengan membawa emas. Pa Oh langsung berlutut, memohon agara Ratu menyelamatkan nyawa Ji Dwi. Ratu pun memerintahkan mereka untuk memanggil para pejabat.


Ui Hwa bertemu lagi dengan Hwi Kyung yang mengabarinya tentang Hwarang yang disandera di Baekje dan mungkin tidak akan bisa kembali. Dia curiga kalau Park Young Shil yang memberitahu Putra Mahkota Baekje tentang adanya Raja diantara para Hwarang. Para pejabat pun tidak akan berbuat apa-apa karena Park Young Shil akan tetap diam. Lalu apa yang harus mereka lakukan? Ui Hwa bertanya-tanya.

"Menurutmu apa? Jawabannya ada padamu," ujar Hwi Kyung.


Saat para pejabat sudah berkumpul di hadapan Ratu Ji So, hanya Park Young Shil yang tak hadir. Seorang pejabat beralasan kalau Park Young Shil tidak bisa ikut karena sakit perut. Para pejabat yang anaknya tak ikut sebagai utusan, meragukan informasi penyanderaan Hwarang dengan senyum licik dan menyatakan ketidaksetujuan mereka untuk mengirim pasukan.

Sontak saja para pejabat dari kedua kubu langsung ribut sendiri. Walaupun berada di kubu Park Young Shil, Tuan Ho tampak diam saja karena mencemaskan anaknya.

Kesal mendengarkan mereka, Ratu Ji So langsung marah. Kemarin mereka ingin perang, sekarang mereka berubah pikiran. "Negara mana sebenarnya yang kalian abdi? Apa kalian tidak peduli dengan keselamatan Silla?!"


Setelah itu, para pejabat dan Park Young Shil langsung rapat. Park Young Shil tampak sangat santai dan puas, segalanya berjalan lebih mudah daripada yang dia bayangkan. Dengan begini dia tidak perlu repot, dia akan bisa menghancurkan semua musuhnya dengan membuat mereka saling berperang sendiri.

Park Young Shil yakin kalau Raja benar-benar ada diantara para Hwarang yang dikirim ke Baekje. Kalaupun tidak, mereka harus membuatnya seperti itu.


Memikirkan ucapan Hwi Kyung bahwa jawaban masalah ini ada di tangan Ui Hwa sendiri, Ui Hwa langsung tertawa histeris dan melempar krupuk berasnya dengan penuh amarah.


Putra Mahkota Chang memainkan dadunya lagi, merasa beruntung karena bertemu Raja Silla sekarang. Dia punya perasaan kalau dia bisa berada dalam bahaya kalau bertemu Raja Silla di masa depan. Jenderal bertanya apakah Putra Mahkota akan membunuh Raja Silla.

Putra Mahkota Chang tersenyum, "Apa yang dia bilang memang benar. Semua orang harus tahu kalau dia Raja. Begitu dia diakui maka aku akan bisa membunuhnya. Pangeran Baekje membuat Raja Silla bertekuk lutut. Jika Silla tunduk dalam genggamanku dengan cara seperti itu, aku akan punya keunggulan terhadap Tiga Kerajaan tanpa masalah. Aku mungkin bisa memberikan hadiah besar untuk ulang tahu Baginda Raja. Bagaimana menurutmu, Jenderal?"

Jenderal mengaku cemas, takut terjadi sesuatu pada Putra Mahkota Chang. Tapi Putra Mahkota Chang sangat percaya diri, apa Jenderal lupa siapa dia? Dia adalah Putra Mahkota Chang, medan perang adalah tempat bermainnya.


Seornag Hwarang buru-buru masuk aula dan memberitahu teman-temannya kalau para utusan mungkin tidak akan bisa kembali, mungkin mereka akan mati. Semua orang langsung cemas mendengarnya, lalu apa yang harus mereka lakukan?


Ui Hwa bertanya pada Asistennya, apa dia yakin kalau Hwarang punya kekuatan untuk mengubah Silla. Jika seekor burung hendak terbang meninggalkan sarangnya, maka mereka harus dilatih berhari-hari terlebih dulu. Jika mereka membiarkan anak-anak itu keluar menghadapi dunia, akankah mereka bisa terbang?

Asisten mengaku kalau awwalnya dia tidak menyukai tempat ini, dia bahkan tidak menganggap Ui Hwa sebagai seorang guru. Tapi sekarang, anak-anak itu sudah berubah. Mereka sudah tidak lagi terikat oleh dunia orang dewasa. Mereka bisa membuat keputusan sendiri. Mereka punya keinginan untuk memutuskan dunia seperti apa yang ingin mereka tinggali.

Tapi Asisten heran kenapa Ui Hwa bertanya seperti itu, apa dia mau buat masalah lagi? Ui Hwa menyangkalnya dan berterima kasih atas pendapatnya.


Keesokan harinya, Sun Woo bersiap untuk pertarungannya dengan Putra Mahkota Chang. Soo Ho berusaha membujuk Sun Woo untuk membatalkannya. Tapi Sun Woo menolak, lebih baik melakukan sesuatu daripada tidak sama sekali. Dia yakin kalau dia tidak akan kalah. Jenderal datang tak lama kemudian untuk menjemput Sun Woo.

"Jangan mati," perintah Ji Dwi.


Di tengah jalan, Jenderal tiba-tiba menyayat lengan Sun Woo lalu memperbannya. Dia menegaskan kalau pertarungannya tetap satu lawan satu dan syarat lainnya tetap saja, dia melakukan ini untuk pencegahan saja.


Semua orang sudah berkumpul saat Sun Woo tiba. Putra Mahkota Chang langsung maju dengan pedang terhunus, tapi dia berhenti untuk menatap A Ro, entah kenapa dia masih merasa terganggu oleh A Ro.

"Kau pasti ketakutan sampai bicara ngawur," ejek Sun Woo

"Kau pasti akan kesulitan memegang pedang," balas Putra Mahkota Chang

"Kau sangat tertarik padaku rupanya"

Kesal, Putra Mahkota Chang mengumumkan dirinya yang hari ini akan bertarung melawan Raja Silla. Rakyat Baekje sontak bersorak ria. Dia menegaskan kalau pertarungan ini harus adil dan hubungan kedua negara akan berbeda tergantung hasil pertarungan ini. Dia berjanji kalau dia akan menerima apapun hasilnya dan tidak akan membuat masalah apapun yang mungkin akan terjadi dari insiden ini.


Pertarungan pun dimulai dan Putra Mahkota langsung menarget lengan Sun Woo yang terluka. Sun Woo berusaha bertahan dan melompat untuk menyerang Putra Mahkota, tapi Putra Mahkota Chang memanfaatkan saat itu untuk menyerang kaki Sun Woo. Merasa diatas angin, Putra Mahkota pun tak segan mengejek kemampuan Sun Woo.


Sun Woo bangkit dan mulai menilai Putra Mahkota Chang, menyadari kalau dia kesulitan untuk menghindar karena Putra Mahkota Chang cepat dan gesit.

 

Sun Woo berusaha menyerang sekali lagi, tapi lagi-lagi Putra Mahkota dengan mudah menyayat lengan Sun Woo yang satunya.


"Dia mempermainkanku. Dia berencana menusukku begitu aku kelelahan. Aku tidak akan bisa bertahan lama" batin Sun Woo. Dia bersiap menyerang lagi dan bertekad untuk bergerak lebih cepat dari Putra Mahkota Chang. Dia menghitung dalam batinnya dan dalam hitungan ketiga, dia langsung menyerang dan akhirnya sukses menyayat lengan Putra Mahkota Chang.


Pertarungan jadi semakin sengit, tapi kali ini Sun Woo akhirnya berhasil unggul. Jenderal mulai cemas dan hampir menghunus pedangnya, tapi Sook Myung langsung mencegahnya dan mengingatkannya kalau pertarungan ini harus adil antar kedua negara.


Begitu mereka bangkit, mereka memutuskan untuk ganti peraturan dan bertarung dengan tangan kosong. Keduanya sama-sama kuat dalam pertarungan kali ini, saling tinju dan menumbuk satu sama lain. Tapi pada akhirnya, Putra Mahkota mengungguli Sun Woo, meninjunya berkali-kali dan mencekiknya.

Bersambung ke part 2

1 comments:

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon