Powered by Blogger.

Images Credit: tvN

Sinopsis Revolutionary Love Episode 1 - 2


Saat Hyuk turun, dia melihat Joon dimarahi Manager. Joon tetap tidak terima, tugasnya kan cuma melakukan pekerjaanya dan menerima gaji. Masa dia harus menjual harga diri juga?

Lagipula gajinya terlalu rendah untuk menjual harga diri dan perasaannya. Manager santai, kalau itu masalahnya maka Joon berhenti saja kalau begitu.

"Apa maksudmu berhenti?" Sela Hyuk. "Bagaimana bisa kau memecat pegawai yang tidak bersalah?"

Kedua wanita langsung bengong menatapnya. Melihat seragamnya Hyuk, si Manager langsung kesal mengira dia pegawai juga. Apa pegawai jaman sekarang tidak dilatih dengan benar?


Malas berdebat lebih jauh, Joon menyuruh Manager untuk mentransfer gajinya bulan lalu hari ini juga. "Pelanggan adalah raja? Ini adalah dunia dimana presiden bisa diturunkan kalau dia salah."

"Aku setuju. Pelanggan adalah raja? Itu kuno banget."

"Kau... kau... kau! Keluar! Kalian berdua! Cepat... ke-lu-ar! Cepetan!"


Hyuk dan Joon pun dilempar keluar. Joon tidak terima dan terus protes, ini pemecatan yang tidak adil. Memangnya salah kalau dia minta diperlakukan dengan hormat sebagai seorang pegawai?

"Kalian memperlakukan pegawai dengan cara seperti ini, tapi kalian menjanjikan pelayanan terbaik? Kuharap hotelmu bangkrut!"

"Tidak perlu sampai mengutuk mereka."

"Kau ini apa? Pekerja paruh waktu juga? Di spa?"

"Bukan."

"Kau pegawai tetap? Dan mereka tetap menendangmu?"

Hyuk bingung sendiri, dia bahkan tak tahu apa itu pekerja paruh waktu dan pekerja tetap. Yakin kalau Hyuk adalah pekerja tetap, Joon menyarankan Hyuk untuk melaporkan kesewenangan-wenangan hotel ini pada serikat buruh saja supaya dia bisa mendapatkan upahnya.


"Apa harus begitu?"

"Fighting. Kuharap kau menang." Ujar Joon sambil mengajaknya tos. "Bagaimanapun, terima kasih karena kau sudah berjuang bersamaku, kamerad."

Hyuk benar-benar kesengsem padanya. Joon lalu berjalan pergi, tapi Hyuk memanggilnya kembali untuk menanyakan namanya.

"Aku? Aku Baek Joon. Dan siapa namamu?"

"Hyuk. Byun Hyuk."

"Byun... Hyuk. Namamu bagus. Sampai jumpa Byun Hyuk."


Sebelum dia memanggil namaku
Aku bukan siapa-siapa
Saat dia memanggil namaku
Untuk pertama kalinya...
aku menjadi bunga.


Hyuk mau masuk kembali ke hotel, tapi malah dihalangi dan didorong-dorong karena dikira kalau dia adalah pegawai hotel dan sekarang dia pecat.

Menyadari dia masih pakai seragam pegawai, Hyuk menjelaskan kalau mereka sudah salah paham, dia tidak bekerja di tempat ini. Tapi tak ada yang percaya dan dia terus didorong-dorong.

mengabaikan peringatan Jae Hoon untuk tidak mengungkap identitasnya, Hyuk tetap bekat memberitahukan identitasnya yang sebenarnya. Dia adalah Byun Hyuk, anak CEO Byun Kang Soo. Semua pegawai bengong menatapnya.


Dan Hyuk pun langsung digotong dan dilempar keluar dari hotel. Saat Hyuk terus jejeritan mengklaim dirinya Byun Hyuk, seorang manager langsung membentaknya dan mengancam akan memanggil polisi.

Hyuk langsung panik, berkhayal Jae Hoon marah besar padanya dan menembaknya sampai mati. Takut dengan khayalannya sendiri, Hyuk memutuskan menyerah dan pergi.


Terpaksalah Hyuk pergi dari sana sambil menggerutu galau, apalagi dia tak punya ponsel ataupun dompet sekarang ini. Tapi saat dia tiba di halte, dia melihat Joon sedang menunggu bis dan senyumnya langsung mengembang lebar.

Joon melihatnya dan langsung menghampirinya sambil memanggilnya 'kamerad'. "Apa kau naik bis di sini juga?"

"Oh? Oh, iya."

Tapi dia melihat ada goresan di wajah Hyuk. Itu karena tadi Hyuk kembali ke hotel dan terlibat pertengkaran dengan orang-orang itu. Joon langsung menduga kalau Hyuk pasti dihajar orang-orang itu.

Malu, Hyuk menyangkal dan mengklaim kalau dia cuma terluka sedikit. "Aku tuh seperti Sparta waktu mereka mengeroyokku. Ngomong-ngomong, apa aku boleh pinjam ponselmu? Ponsel dan dompetku ketinggalan di hotel."


"Mereka bahkan tidak membiarkanmu mengambil barang-barangmu dari hotel? Mereka jauh lebih buruk daripada yang kukira."

Joon pun dengan senang hati meminjamkan ponselnya. Tapi Hyuk malah bingung sendiri. Soalnya biasanya dia pakai speed dial, jadi dia tidak ingat nomor teleponnya.

Bis datang saat itu, Joon pun harus pergi. Hyuk terpaksa harus menyodorkan ponselnya kembali, tapi dia malah terus memeganginya erat-erat dan ujung-ujungnya mereka malah tarik-tarikan ponsel sampai bisnya Joon pergi.

"Apa kau sudah makan?" Tanya Joon prihatin. Hyuk langsung geleng-geleng dengan senyum manis.


Jae Hoon pergi ke hotel mencari Hyuk, tapi dia tak ada di kamarnya. Si Manager bergegas datang menemuinya dan langsung panik saat Jae Hoon berkata kalau tamu hotel yang mau ditemuinya adalah Byun Hyuk, anak kedua CEO Byun.


Joon pun membawa Hyuk makan di sebuah kedai. Joon dengan antusias mencampur semua bumbu ke dalam mangkok, tapi Hyuk jijik melihat makanan di hadapannya itu. Ini apa?

"Sup nasi babi rebus. Apa ini pertama kalinya kau melihatnya?" Heran Joon

"Aku belum pernah melihat jeroan babi dalam rebusan."

Joon tak percaya mendengarnya dan menduga kalau Hyuk pasti orang yang sangat pilih-pilih soal makanan. Coba saja makan dulu. Dia menjelaskan kalau daging di sup itu terdiri dari semua bagian daging babi. Mulai dari kepala, jeroan, otak bahkan kuping babi. Hyuk melongo, kuping babi?

"Jangan makan kalau tidak mau. Bagiku, inilah jiwa makanan. Ini enak banget." Ujar Joon sambil melahap makanannya dengan sangat nikmat.


"Seseorang yang jiwanya dihibur dengan mengunyah kuping babi," pikir Hyuk yang keheranan melihat Joon.

"Kalau kau pikir begitu. Kurasa manusia itu sangat kejam."

Joon heran. "Apa kau tidak suka daging babi? Apa kau vegetarian?"

"Tidak. Kurasa kita harus makan dengan baik demi si babi yang mengorbankan dirinya sendiri."


Hyuk akhirnya mau juga melahap makanannya. Tanpa tahu siapa sebenarnya Hyuk, Joon santai saja membahas biaya menginap di hotel itu yang semalamnya sama dengan gajinya sebulan.

Dilihat dari usia kedua tamu hotel tadi, mereka jelas seumurannya. Mana mungkin mereka bisa menghasilkan uang sebanyak itu. Hyuk setuju, itu pastilah uang orang tua mereka.

Betul sekali. Orang-orang itu bersikap sok dengan menggunakan uang pemberian orang tua mereka. Dan karena orang-orang semacam itulah, negara ini jadi semakin korup dan orang-orang kecil seperti merekalah yang harus menderita.

"Menderita bagaimana?"

"Mereka membuatmu merasa serba kekurangan hingga kau tidak mau lagi bekerja keras. Mereka membuatmu merasa putus asa hingga kau tidak ingin hidup lagi."

"Tapi bukankah agak keterlaluan untuk menyebut itu disebabkan oleh mereka?"

"Kau itu tidak mengerti bagaimana dunia yang sebenarya. Kau itu baru saja ditendang karena mereka. Kau hanya akan terluka kalau kau bersikap selembut ini. Orang-orang yang tidak punya apa-apa seperti kita ini, harus menegakkan kepala. Ini tuh Hell Joseon."

Hyuk bingung sendiri, Hell Joseon itu apaan? Apa itu kombinasi Bahasa Korea dan Inggris? "Hidup dimana biaya hidup setara dengan gaji bulanan. Karena itukah disebut hell (neraka)?"


Selesai makan, Joon pun pamitan pada Hyuk. Yakin kalau Hyuk tak punya ongkos naik bis, Joon pun mengeluarkan dompetnya. Tepat saat itu juga, Hyuk melihat video rekamannya saat menggila di pesawat diputar di layar billboard. Panik melihat video itu sudah viral, Hyuk tiba-tiba minta tolong ke Joon.

Para wartawan sudah menunggu saat CEO Byun tiba di kantor dan mereka langsung mengerubunginya dengan berbagai pertanyaan tentang Hyuk.

 

Jae Hoondan para pengawal berusaha melindunginya. Tapi para wartawan itu bergerak terlalu dekat sampai salah satu mic tak sengaja menyodok hidung CEO Byun. kesal, CEO Byun memerintahkan Je Hoon untuk menangkap Hyuk dan bawa kepadanya. Sekarang juga!


Jae Hoon kembali kamar hotelnya Hyuk, tapi dia belum kembali dan ponselnya juga ketinggalan. Seorang pelayan bahkan menemukan bajunya Hyuk yang masih tersimpan di loker.

"Jadi maksudmu, dia menghilang dari kolam renang?"

Hyuk langsung pergi ke ruang kontrol CCTV. Tapi dia tidak menemukannya, malah si Manager yang duluan menemukan rekaman saat Hyuk digotong keluar dari hotel dan si Manager langsung menutupi rekaman itu dari pandangan Je Hoon.

Jae Hoon terpaksa berkeliling ke berbagai tempat yang mungkin didatangi Hyuk. Ke gym, lapangan golf, diskotik. Tapi tetap saja Hyuk tidak kelihatan di mana-mana.


Dalam perjalanan pulang, dia ditelepon ayahnya yang ternyata supirnya CEO Byun. Tuan Kwon langsung ngomel-ngomel memarahi Je Hoon karena dia tidak mengurus Hyuk dengan baik, malah membiarkan berita itu bocor.

Kesal, Jae Hoon membela diri kalau dia sudah berusaha mengurusnya dengan baik. Tapi Hyuk bukan anak kecil dan dia tidak bisa mengawasinya 24 jam.

"Seharusnya kau melakukan itu kalau perlu. Aku benar-benar malu untuk menghadapi CEO Byun."

"Cukup aku saja yang melakukan itu, jadi ayah tidak perlu bersikap seperti itu."

"Bagaimana dengan tuan muda? Apa dia baik-baik saja?"

"Aku sedang mencarinya."

Tuan Kwon jadi cemas, kemana perginya Hyuk sampai selarut ini? Apalagi di luar dingin. Semoga saja dia tidak menderita. Jae Hoon sontak mengepalkan tangannya erat-erat saking kesalnya mendengar ayahnya mencemaskan Hyuk.

"Tuan muda yang sangat ayah cemaskan itu, aku yakin dia baik-baik saja. Jadi ayah urus saja diri ayah sendiri!"

Tuan Kwon langsung menggerutu saat Hyuk menutup teleponnya begitu saja. Tuan Kwon benar-benar pegawai yang sangat setia pada CEO Byun, dia bahkan berpikir kalau mereka bisa hidup baik seperti ini berkat CEO Byun.


Tapi dalam flashback, Jae Hoon tampak jelas tak senang dengan kehidupan mereka ini. Pernah waktu kecil, dia melihat ayahnya membungkuk di bawah kaki CEO Byun hanya demi membersihkan debu di sepatunya CEO Byun.

Dia dan Hyuk tumbuh bersama sejak kecil. Tapi waktu itu, dia sama sekali tak menyangka kalau dia akan menjalani hidupnya untuk membersihkan kekacauan yang dibuat Hyuk.


"Dia adalah beban, duri di sisiku. Tapi dia adalah seseorang yang tidak bisa kulepaskan. Dia adalah elevator bagi hidupku."

Dia berhenti di tengah jalan saat melihat videonya Hyuk itu diputar di sebuah TV dan langsung mengepalkan tangannya penuh emosi. "Tak peduli penghinaan apapun yang harus kulalui, aku harus menahanya. Aku yakin aku akan mendapatkan penghargaan pada akhirnya."


Nyonya Byun pergi mendatangi seorang dukun yang malah mengklaim kalau Hyuk akan jadi orang hebat nantinya. Nyonya Byun tak percaya, dia justru datang kemari untuk minta jimat untuk mencegah Hyuk membuat masalah terus.

Dukun langsung menggebrak meja dan mengomeli Nyonya Byun tentang orang-orang semacam Einstein dan Edison yang di masa kecilnya bermasalah, tapi nyatanya mereka menjadi orang besar.

Dukun meyakinkan Nyonya Byun untuk tidak cemas. Hyuk memiliki Um dan Yang dan lima elemen dalam dirinya. Mulai mempercayainya, Nyonya Byun pun langsung tersenyum lebar.


Hyuk sendiri sedang menikmati ramen dan numpang di rumahnya Joon, sementara Joon sendiri sedang mondar-mandir galau. Sepertinya dia mau menitipkan Hyuk ke tetangganya, tapi bingung bagaimana dia harus menjelaskannya nanti.

Dia bahkan yakin kalau tetangganya akan menolak nanti, apalagi tetangganya itu orang yang dingin dan kejam. Dia akan tetap mencobanya, tapi dia menyarankan Hyuk untuk tidak terlalu berharap.

Hyuk masa bodoh, malah minta tambah ramennya. Joon menurutinya dengan senang hati, tapi tentu saja tidak gratisan. Biayanya 7.000 won, tapi Hyuk cukup bayar 6.000 won saja. Dan jangan lupa, biaya semalam 30.000 won. Beres, Hyuk akan membayarnya begitu dia mendapatkan uangnya.


Dan tentu saja tetangganya Joon itu adalah Jae Hoon. Dan sesuai perkiraan, dia menolak dan tidak mau peduli juga. Tiba-tiba mereka mendengar suara teriakan dari atap.


Mereka berdua bergegas naik dan mendapati tamunya Joon itu sedang jejeritan gaje gara-gara melihat tikus. Dia berbalik dan sontak saja kedua pria itu langsung kaget melihat satu sama lain.

"Ini orang yang kumaksud. Kameradku yang dipecat dari hotel bersamaku."

"Apa? Kamerad?"


"Senang bertemu anda," sapa Hyuk seolah mereka baru kenal.

"Senang bertemu anda?"

"Sudah kubilang dia orangnya agak dingin."

"Ah, iya, yah. Aku mengerti." Hyuk diam-diam memberinya isyarat untuk diam saja.

Joon sekali lagi memohon agar Jae Hoon membiarkan Hyuk menginap semalam di tempatnya. Kalau Jae Hoon tidak mau, maka pastinya Hyuk harus tidur di apartemennya. Tapi dia tidak bisa melakukan itu karena mereka kan pria dan wanita.

"Dia akan membayar untuk menginap semalam. Kita bisa bagi dua, oke?" Bisik Joon


Kesal, Jae Hoon terpaksa menampung Hyuk di rumahnya dan menuntut apa sebenarnya yang terjadi pada Hyuk? Ada kesalahpahaman gara-gara bajunya ini, dia diusir dari hotel tanpa ponselnya jadi dia tidak bisa menghubungi Jae Hoon. Tapi bagaimana bisa Hyuk berakhir di sini?

"Itu dia! Ini pasti takdir." Santai Hyuk lalu menghempaskan dirinya ke kasur.

Kesal, Jae Hoon langsung berusaha menyeretnya pulang. Hyuk ngotot tidak mau dan langsung pakai jurus melas, memberitahu Jae Hoon kalau tadi dia mendapati Chae Ri selingkuh dengan temannya sendiri.


"Hari ini sungguh hari yang sangat sulit bagiku. Aku cuma ingin istirahat sehari saja. Tidak bisakah kau menghiburku, sebagai teman?"

"Apa kau tahu kekacauan yang kau buat di perusahaan? Dan kau malah bersedih karena pacarmu selingkuh?"

"Ini malam terakhirku. Aku akan menyerahkan diri besok. Aku akan masuk penjara. Temanilah aku, my friend! Mon ami (Bahasa Perancis)! Watashi no tomodachi!" Rayu Hyuk sambil menepuk-nepuk sebelah ranjangnya.


Joon kesal memikirkan rencana menabungnya yang jadi kacau gara-gara wanita tadi, padahal pekerjaan di hotel itu yang gajinya paling banyak. Apa yang harus dia lakukan untuk menggantinya. Joon stres melihat papan jadwal hariannya yang sudah penuh dengan berbagai kegiatan.

Akhirnya dia mengalihkan perhatiannya ke foto masa kecilnya bersama Ayahnya sambil curhat tentang kejadian tadi.

"Mereka tidak menghargai hak-hak karyawan dan memperlakukan kami semena-mena. Aku sangat jijik jadi aku langsung berhenti. Aku melakukan hal yang benar, kan? Jika aku tetap bekerja di hotel, aku akan terluka seperti ayah. Ayah mengerti kenapa aku tidak bekerja tetap kan?"


Jae Hoon menggelar alas di lantai dan memaksa Hyuk tidur di situ. Hyuk penasaran Joon itu orangnya seperti apa? Dia jelas bukan wanita biasa.

"Apa maksudmu?  Dia cuma pegawai paruh waktu dan kekanakan."

"Dia keren. Dia menyelamatkan hidupku. Dia seperti penuntun cahaya. Jika bukan karena dia, aku mungkin sudah mati kelaparan. Dia orang pertama yang memperlakukanku dengan sangat baik."

Hyuk ingin membayar kebaikan Joon. Biaya menginap dan 3 mangkok ramen totalnya 49.000 won, Jae Hoon tak percaya mendengarnya, bisa-bisanya Joon menjual ramen dan menyewakan kamar pada orang asing.


"Tidak mampu membeli satu porsi makanan adalah hal yang membuatku merasa sangat buruk. Rasanya sangat menyedihkan tidak memiliki uang itu. Harga diriku terluka dan aku merasa sangat rendah."

"Kau baru menyadarinya?"

"Aku menyadari kalau aku adalah orang bodoh yang bahkan tidak bisa menghasilkan 10.000 won sendiri. Kau bilang aku punya hak istimewa itu karena mematuhi ayahku. Sekarang aku mengerti."

Tapi Joon tidak mematuhi siapapun. Dia bahkan tidak mau menjual harga diri dan kehormatannya demi uang. Dia keren banget.


Hyuk penasaran, sudah berapa lama Jae Hoon mengenal Joon? Apa dia sudah lama tinggal di sini bersama Joon? Jae Hoon menolak menjawab dan langsung berbalik. Padahal diam-diam-diam dia tersenyum teringat kenangan bersama Joon.

Flashback.


Ternyata Joon pernah menyatakan cinta duluan ke Jae Hoon semasa mereka kuliah dulu. Jae Hoon tercengang mendnegarnya. Dan entah mungkin karena terlalu gugup dengan pengakuan cinta dadakan itu, Joon malah dingin menjawab. "Terus? Aku musti bagaimana?"

Joon jelas kecewa dengan reaksinya.

Flashback end.


Joon tidak bisa tidur memikirkan sikap dan ucapan kasar Jae Hoon tadi. Nilai manusia ditentukan dari pekerjaan mereka? Jae Hoon itu sama saja seperti si gadis tidak sopan dan si manager itu.


Hyuk masih penasaran dan terus tanya-tanya tentang hubungan mereka. Mereka sedekat apa? Mereka tidak pacaran, kan? Pasti tidak. Jae Hoon heran, kenapa Hyuk tanya-tanya mereka pacaran atau tidak? Jangan-jangan dia...

"Kurasa Joon suka padaku." (Pfft! pede banget)

Jae Hoon kaget mendengarnya. Hyuk yakin soalnya Joon baik banget padanya. Seharian ini Joon membawanya berkeliling, memberinya tumpangan, memberinya makan bahkan mencarikannya tempat bermalam.

"Dia itu suka aku. Aku ini populer kemanapun aku pergi."

Jae Hoon mendengus sinis dan mengingatkan Hyuk untuk tidur saja sebelum dia menyerahkan diri besok.

"Jagalah dia dengan baik selama aku pergi, Jae Hoon-ah. Tapi, Hell Joseon itu apaan?"


Malas meladeninya lagi, Jae Hoon langsung berbalik membelakanginya. Hyuk melamun kasmaran memikirkan Joon. "Kurasa... aku jatuh cinta padanya. Semua cinta yang pernah kumiliki selama ini, semua itu cuma latihan. Kurasa aku sudah menemukan wanita yang ditakdirkan untukku."

Bersambung ke episode 2

5 comments

Mba tolong yg memory lost dilanjut yaa, smnga mba ima, trimkasih sblumnya😊

Ini siwon cute banget si makin love. Hahahha
Makasih ya mba ima udah bikin sinopsis nya . And sehat selalu mba biar bisa update terus. Heheh

D tunggu kelanjutan y, semangat 😊😊

Hi hi ..selalu suka sama choi siwon .., tambah suka mba Ima nulis sinopsisnya ..

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon