Powered by Blogger.

Images Credit: KBS2

Sinopsis School 2017 Episode 1- 2


Para guru sedang rapat membahas hasil ujian percobaan ini. Tapi Kepala Sekolah tak puas melihat grafik nilai mereka dan bersikeras menyuruh para guru untuk mengadakan ujian percobaan 4 kali.

"Kenapa tidak sekalian saja kita beri mereka 4 ujian tengah semester dan ujian akhir, juga ujian akhir pekan dan ujian waktu liburan?" Sinis Pak Park.

Kang Myung juga kurang setuju dan berusaha menyampaikan keluh kesah murid-murid karena banyaknya ujian yang harus mereka ikuti. Tapi Kepala Sekolah terus bersikeras mau menggenjot para murid biar peringkat mereka naik terus dan menunjukkannya pada direktur sekolah mereka.

"Siapa yang peduli dengan grafik nilainya?" Celetuk Guru Jung.

Bel berbunyi saat itu dan para guru langsung bubar. Kang Myung juga mau pergi, tapi Guru Park menyuruhnya untuk menempel grafik nilai rata-rata di papan buletin.


Kang Myung akhirnya menempelkan grafiknya sambil menggerutu dan memprotes keputusan Kepala Sekolah tadi. Bagaimana bisa mereka mengadakan ujian percobaan 4 kali, anak-anak bisa gila, sebodoh amat sama direktur...

Tapi ternyata dia tidak sedang protes ke siapapun, malah menggerutui dirinya sendiri yang bahkan tidak sanggup mengucap protes seperti ini di hadapan Kepala Sekolah tadi. Malah saat direktur datang, tak lama kemudian, dia langsung bergegas menyelesaikan pekerjaannya lalu membungkuk hormat.


Kepala Sekolah dan Guru Park dengan bangga memberitahu Direktur Hyun Kang Woo bahwa nilai rata-rata murid sekarang semakin meningkat. Tentu saja Direktur Myung senang mendengarnya... sampai saat dia melihat nama anaknya berada di peringkat 288. Pfft!

Dia sontak kesal dan malu. Pak Park diam-diam mengomeli Kang Myung, seharusnya dia tidak usah memasukkan nama Tae Woon dalam daftar.


H-2 sebelum ujian percobaan, Eun Ho belajar di kelas sambil mendesah mengeluhkan ujian yang diadakan sekolah mereka ini. Sa Rang heran, memangnya sejak kapan Eun Ho peduli dengan ujian.

"Tapi aku harus masuk Universitask Hanguk." Kata Eun Ho.

Sa Rang tak percaya mendengarnya, "Di mana?"

Mereka tak sempat ngomong lagi karena Guru Koo masuk saat itu. Semua murid langsung diam, tapi Eun Ho terus saja berceloteh kalau dia mau masuk ke Universitas Hanguk. Sa Rang sinis, bagaimana bisa Eun Ho masuk ke sana.

"Dia akan berkencan denganku kalau aku masuk ke kampus yang sama dengannya." Ujar Eun Ho kepedean.


Sa Rang tak percaya, apa Jong Geun sungguh mengatakan itu. Apa mungkin kalau Jong Geun bilang dia cuma mau pacaran. Eun Ho mulai ragu dengan ingatannya sendiri dan mencoba memikirkan ucapan Jong Geun baik-baik... dan akhirnya dia sadar kalau ingatannya memang salah, Jong Geun tak pernah bilang mau pacaran dengan Eun Ho dan cuma bilang kalau dia ingin punya pacar satu kampus.

Sebodo lah, pokoknya dia tetap bertekad mau masuk Universitas Hanguk bersama Jong Geun oppa. Sa Rang pesimis, Eun Ho tidak akan berhasil seberapa keras pun dia mencoba. Eun Ho malah tambah ngotot mau masuk Universitas Hanguk.


"Kalau aku jadi kau, aku akan mengatakannya di dalam hati saja." Bisik Sa Rang... karena tepat saat itu juga, Guru Koo menepuk bahu Eun Ho dengan tongkat kayunya dan tanya Eun Ho level berapa.

"Saya level enam," gumam Eun Ho.

Seketika itu pula, Guru Koo langsung mencacinya. Itu adalah level yang sangat rendah. Mereka yang berada di level 6 tidak seharusnya diperlakukan seperti manusia. Berani sekali dia bicara di dalam kelas.


Sa Rang baru berani ngomel-ngomel menggerutui kekasaran Guru Koo setelah kelas usai dan menyemangati Eun Ho untuk tidak patah semangat lalu memeluknya erat-erat. Dae Hwi dan pacarnya, Hong Nam Joo, lewat dan memberitahu Eun Ho kalau sepertinya dia bisa lulus masuk ke Universitas Hanguk.

Sa Rang langsung kesal, mengira Dae Hwi sedang membohongi Eun Ho. Tapi Dae Hwi serius, Universitas Hanguk baru saja membuat jurusan Webtoon Media. Kalau Eun Ho bisa menang kompetisi maka dia bisa masuk, Eun Ho kan pintar menggambar.

"Aku mendengar itu saat aku berkunjung ke sana." Kata Dae Hwi lalu mengirimkan link kompetisi membuat webtoon yang diadakan Universitas Hanguk itu.


Kepala Eun Ho seolah dipenuhi kembang api begitu membaca pengumuman kompetisi itu, yang menang bakalan diterima di Universitas Hanguk lagi. "Aku punya kesempatan!"


Dia langsung berkhayal dirinya diterima di sana. Dia sedang melukis pemandangan saat Jong Geun oppa tiba-tiba muncul dengan senyum manis lalu menyatakan cinta padanya.

"Tapi sunbae, kau kan sudah punya pacar."

"Soal cinta, ada yang namanya orang baik dan orang jahat. Aku ingin mencoba menjadi pria jahat (bad boy)." Kata Jong Geun.

Eun Ho terharu mendengarnya. Jong Geun lalu mendekatnya wajahnya, Eun Ho pun langsung menengadah menantikan ciuman Jong Geun... tapi Jong Geun mendekat cuma untuk mengambil pulpen untuk menggambar tahi lalat di pipi Eun Ho dan lagu soundtrack Temptation of Wife pun berkumandang. Wkwkwk! Khayalan nggak jelas.


"Hal menjijikkan macam apa itu?" Tiba-tiba terdengar suara Tae Woon yang menyadarkan Eun Ho lamunan gajenya lalu merampas buku gambarnya.

Eun Ho berusaha merebutnya kembali, tapi Tae Woon menjauhkannya sambil mengejeki cerita webtoon karangan Eun Ho yang nggak banget. Seharusnya ini jadi novel saja. Hidung ceweknya mancung banget lagi.

Lebih lucunya lagi, nama tokoh utamanya adalah Eun Hwa yang kentara jelas kalau ini karakter utama ini adalah Eun Ho sendiri. Eun Ho berusaha keras menyangkal, tapi Tae Woon tak mempercayainya sedikitpun dan menyarankannya untuk membuat ceritanya seperti sebuah novel.


H-1 sebelum ujian percobaan. Eun Ho dan Sa Rang ngobrol di toilet bersama Ibunya Sa Rang yang bekerja jadi petugas kebersihan di sana.

Alih-alih memikirkan ujian percobaannya, Eun Ho malah lebih galau memikirkan cerita webtoon-nya. Cerita cinta terlalu umum, cerita action terlalu sulit digambar, dia terlalu malas mempelajari cerita medis. Bagaimana kalau dia menulis cerita er*tis saja?

Sa Rang mengelus kepala Eun Ho dan mengingatkannya kalau dia bahkan belum pernah ciuman. Ibunya Sa Rang nyeletuk, Sa Rang sudah ciuman sejak dia SMP. Sa Ra sontak malu dan berusaha menutup mulut ibunya.


Di luar gerbang sekolah setelah sekolah usai, tampak segerombol siswi dan segerombol siswa yang sepertinya tengah menanti idola mereka dengan membawa hadiah dan bunga-bunga. Saat Dae Hwi pamit pada pacarnya, Nam Joo langsung mengeluhkan Dae Hwi yang belakangan ini suka pulang cepat.

Tak enak, Dae Hwi menggenggam tangan Nam Joo dan berjanji akan membelikan sesuatu yang enak setelah ujian mereka selesai. Baiklah, tapi Nam Joo ingin Dae Hwi meminjamkan semua catatannya. Dae Hwi langsung memberikannya tanpa ragu.

Sebuah mobil mewah datang tak lama kemudian dan Dae Hwi langsung masuk ke dalamnya. Dan seketika itu pula rombongan siswi yang sedari tadi menunggu di gerbang, langsung berlarian mengejarnya.


Dan para siswa yang bawa bunga itu ternyata fans-nya Nam Joo, mereka langsung heboh memotretinya begitu Nam Joo berjalan melewati mereka dengan cuek.


Di sebuah gedung yang dipenuhi tempat-tempat les, beberapa mobil mewah tampak berdatangan. Para orang tua konglomerat sedang mengantarkan anak-anak mereka mengikuti les di sana. Tae Woon juga datang ke sana, gara-gara Ayahnya yang mengancamnya untuk les atau dia akan memblokir kartu kreditnya Tae Woon.


Mobil mewah yang mejemput Dae Hwi ternyata bukan mobilnya Dae Hwi melainkan mobil temannya Kim Hee Chun. Dan dia dibayar oleh Ibunya Hee Chun untuk mengajari Hee Chan tentang apa-apa saja yang musti dia hafal dan pertanyaan apa saja yang mungkin bakalan masuk ujian.

Dae Hwi tampak kurang senang saat Ibunya Hee Chun menawarkan uangnya, tapi akhirnya dia terima juga. Mereka kemudian berpisah saat mereka tiba di tempat les. Hee Chun diantarkan masuk oleh Ibunya, sementara Dae Hwi hanya bisa menatap tempat itu dengan sedih.


Di dalam, Tae Woon terlalu malas mendengarkan promosi petugas tempat les dan bersikeras menyuruhnya untuk memasukkannya ke beberapa kelas yang ada biar dia kelihatan keren, dia sebenarnya tidak perlu belajar soalnya dia orang kaya.
 

Saat Dae Hwi berjalan pergi, tak sengaja dia bertemu Eun Ho yang memberinya selembar selebaran promosi. Ternyata Eun Ho bekerja paruh waktu di sana dan bayarannya lumayan. Dae Hwi tanya gajinya mau dia buat apa?

Beli tablet yang bagus, dia kan mau membuat webtoon. Dae Hwi iri mendengar Eun Ho memiliki impian. Loh, memangnya Dae Hwi sendiri tidak punya impian. Dae Hwi cuma tersenyum miris sambil menatap selebaran promosi itu, dimana di situ disebutkan kalau mereka akan membantu lulus ujian masuk Universitas Seoyul, universitas impian Dae Hwi.


Dae Hwi pulang naik bis sambil menatap uangnya dengan sedih. Saat dia pulang ke rumah yang sekaligus sebuah salon, dia malah melihat ibunya sudah menghabiskan beberapa botol soju bersama teman-temannya. Dia tak suka melihat itu, tapi dia tetap bersikap sopan pada mereka.

Teman-teman Ibu memuji-muji keberuntungan Ibu memiliki putra tampan dan pintar sepertinya. Ibu dengan bangga berkata bahwa omongan orang yang bilang kalau kita perlu uang untuk membuat anak sukses itu cuma omong kosong. Dae Hwi diam saja menahan kesal.


Begitu masuk kamar, dia langsung tak buang waktu untuk belajar dan memasukkan uangnya kedalam laci. Di sana, tampak segepok uang yang dikumpulkannya sedikit demi sedikit. Tangannya tampak penuh luka, mungkin karena kebanyakan menulis. Dia cuma mengganti plesternya dan terus belajar.


Eun Ho merengek-rengek manja, dia mau les, sebulan saja sampai dia punya ide cerita. Ibu menolak, ngapain juga les cuma untuk menggambar komik. Eun Ho meralat, webtoon. Itu bisa membantunya masuk Universitas Hanguk.

Ibu dan oppa-nya Eun Ho sontak menatapnya aneh seolah Eun Ho sudah gila. Yang benar saja, mending dia periksa ke dokter. Eun Ho terus ngotot meyakinkan Ibunya kalau dia pasti bisa. Zaman sekarang, jago menggambar juga bisa masuk universitas top.

Ibu langsung menghardiknya kesal, bisnis keluarga mereka sedang tidak bagus. Mana oppa-nya Eun Ho pengangguran lagi. Mereka tidak punya uang untuk membiayai lesnya Eun Ho. Kesal, Eun Ho menggerutu kalau dia tidak akan kuliah, tidak akan jatuh cinta dan tidak akan menikah dan semua ini salah Ibu.


Eun Ho berusaha fokus belajar dan mulai membaca buku sastra. Tapi ujung-ujungnya dia malah menggambar lagi dan tiba-tiba punya ide untuk cerita webtoon-nya. Dia langsung menelepon Sa Rang untuk menceritakan idenya. Niatnya menelepon sebentar, tapi tak terasa mereka malah sudah telepan-teleponan selama satu jam.

Di berbagai tempat, para murid SMA itu sibuk belajar dengan cara masing-masing. Beberapa ada yang serius, bahkan sampai ada yang harus minum obat untuk menjaga stamina mereka. Sementara Eun Ho malah ketiduran.

"Kami selalu merasa gila dan cemas selama ujian. Beberapa orang ada yang merasa ada seribu kompetisi lain yang siap menyerang begitu mereka meletakkan pulpen mereka dan mereka akan belajar sampai jari mereka melepuh dan melalui semua itu."

"Kami masih muda. Sedihnya, bukan orang tua kami, tapi kami sendirilah yang meyakini bahwa hidup ditentukan saat seseorang berusia 18 tahun."


Sekarang kita tiba pada hari H ujian percobaan dimana sprinkle air tiba-tiba menyala dan muncrat menghujani gedung satu sekolah. Para murid sontak bergembira ria karena ujian mereka kacau balau.

Saat Kang Myung keluar kelas, tiba-tiba dia melihat seorang wanita berseragam polisi lewat dengan santainya sambil memayungi dirinya. Polwan cantik itu berhenti di depannya dan tanpa memperkenalkan siapa dirinya, dia langsung mengomentari sekolah ini luar biasa, pasti menyenangkan. Dia lalu pergi meninggalkan Kang Myung yang cuma bisa bengong kebingungan.


Tapi begitu keadaan sudah terkendali, para murid langsung dikumpulkan di aula untuk mendengarkan omelan Kepala Sekolah. Sementara Kepala Sekolah marah-marah, Eun Ho malah asyik sendiri menggambar muka judes Kepala Sekolah.


Tiba-tiba dia punya ide bagus. Saking antusiasnya dia tak sadar kalau dia mengutarakan ide cemerlangnya itu secara lantang pada Sa Rang. Jadi ide ceritanya gini, ini tentang seorang pahlawan kelas dan Kepala Sekolah yang jadi penjahatnya. Wkwkwk. Sontak saja semua mata langsung mempelototinya. Hanya Dae Hwi dan Tae Woon yang tersenyum menatap Eun Ho.


Saat para guru sedang membersihkan ruangan mereka, Kepala Sekolah membawa masuk si Polwan cantik dan memperkenalkannya sebagai Han Soo Ji dan dia akan mengurus semua urusan sekolah mereka.

Dia terus ngomel-ngomel dan menggerutu kalau pelaku kejahilan ini harus dipenjara. Seorang guru meyakini kalau pelakunya mungkin lebih dari satu anak nakal. Tapi Guru Koo merasa aksi ini sudah direncanakan dan tidak mungkin keisengan yang biasa dilakukan anak-anak. Kang Myung juga berpendapat kalau pelakunya mungkin bukan dari sekolah mereka.

Kepala Sekolah memerintahkan Kang Myung untuk bekerja sama dengan Soo Ji untuk menangkap pelakunya. Soo Ji tanya apa ada kejadian aneh lain yang terjadi selama ini. Pertanyaannya terjawab melalui rentetan flashback ala-ala webtoon.


Pernah suatu kali mereka menemukan potret Kepala Sekolah yang sudah dicoret-coret. Lalu suatu hari, Guru Koo kena jebakan sirup jagung lengket. Lalu suatu hari, mereka mendapati patung direktur terpenggal. Hahaha. Dan terakhir adalah kejadian sprinkle menyala. Entah siapa pelakunya dan belum tertangkap sampai sekarang.


Di kelas, para murid langsung menggosipkan masalah ini. Siapa kira-kira pelakunya. Dae Hwi yakin pelakunya bukan cuma satu orang, soalnya kejahilan ini terlalu besar untuk dilakukan seorang diri.

Hee Chun malah yakin sekali kalau ini ulah suatu organisasi rahasia. Mungkin para anggotanya tidak saling mengenal dan melakukan apa yang sudah ditugaskan pada mereka. Tapi apa motifnya melakukan ini.
 
Seorang siswa juga membicarakan masalah ini dengan Tae Woon. Dia juga meyakini kalau ini ulah sebuah organisasi. Tapi Tae Woon malah melempar tatapan dingin padanya.


Di tempat lain, Eun Ho yakin kalau ini ulah satu orang, firasatnya mengatakan begitu. Heo itu biasanya orang-orang yang kesepian. "Dia keren. Seorang penegak keadilan yang menyelamatkan kita dari keputusasaan. Apapun itu, tetaplah lakukan hal-hal keren semacam itu dan biarkan aku masuk Hanguk dengan bantuanmu."


Malam harinya di sebuah study room, beberapa siswa tampak sibuk nge-chat entah dengan siapa yang menginstruksikan mereka untuk tetap tenang sementara waktu. Dia menyuruh mereka berhati-hatilah dan tunggu kabar darinya. Seorang siswa lalu keluar begitu mengecek ponselnya.

Pada saat yang bersamaan, Dae Hwi dan Tae Woon tak sengaja berpapasan dengan sama-sama memegang ponsel masing-masing. Suasana diantara mereka tampak tegang. Tae Woon menggerutu kesal dan langsung melewati Dae Hwi.

Tapi Dae Hwi langsung menegurnya dan bertanya, "Apa kau suka hidup seperti itu?"

Entah apa yang dimaksudnya, tapi hal itu langsung membuat Tae Won berbalik dan balas menyindir Dae Hwi dengan kesal. "Anak-anak pasti akan suka jika tahu identitas Ketua OSIS kita yang sebenarnya."

"Kau pasti rindu pukulanku, yah." Sinis Dae Hwi.

"Aku tidak akan mengelak."

Tak bisa membalasnya lagi, Dae Hwi akhirnya pergi sambil merutuk kesal. Secara bersamaan, Tae Woo merutukinya. "Dasar psiko!"


Keesokan harinya, Guru Koo menyuruh murid-murid menghapal puisi tapi Eun Ho malah asyik menggambar terus. Jelas saja Guru Koo langsung menyita buku gambarnya Eun Ho, dia boleh mengambil buku gambar ini kembali setelah dia lulus.

Eun Ho sontak panik, "Aku bisa mati tanpa itu, Pak."

Guru Koo jelas heran dan langsung membuka buku gambar itu dan menemukan sebuah gambar pahlawan bertopeng yang melakukan kejahilan sprinkle kemarin. Bel berbunyi saat itu. Tapi sebelum pergi, Guru Koo juga menyita ponselnya Tae Woon yang sedari tadi mainan ponsel terus.


Eun Ho langsung mengejar Guru Koo dan berusaha memohon Guru Koo untuk mengembalikan buku gambarnya. Tae Woon dengan santainya menggunakan kekuasaan ayahnya untuk menuntut ponsel itu kembali dan Guru Koo terpaksa mengembalikannya.

Eun Ho jelas tidak terima dengan perlakuan tidak adil ini. Sambil menatap Tae Woon dengan sinis, Guru Koo menyuruh Eun Ho untuk mencari koneksi yang punya kekuasaan sangat kuat hingga bisa meruntuhkan segala aturan.

"Siapa peduli kalau itu tidak adil. Ini adalah kenyataan kejam dari kehidupan sosial kita."


Eun Ho terus protes tidak terima, masa dia harus diam saja dan membiarkan orang lain mengambil miliknya. Guru Koo dengan ketus mengingatkan Eun Ho kalau dia hanya bisa protes seperti itu jika dia sudah punya kekuatan untuk mengubah kenyataan ini. Eun Ho pikir dia punya kekuatan apa di sekolah ini.


Tae Woon tampak kesal mendengarnya, tapi dia diam saja. Eun Ho langsung merecoki Tae Woon untuk membantunya mendapatkan kembali buku gambarnya. Itu benda yang sangat penting baginya. Dia bahkan berusaha membujuk Tae Woon dengan ber-aegyo. Tapi Tae Woon menolak dan tidak peduli.


Eun Ho tak tenang sepanjang hari memikirkan buku gambarnya. Lama-lama dia jadi seperti orang sinting yang tiba-tiba ketawa gaje lalu tiba-tiba nangis gelisah hingga akhirnya dia tidak tahan lagi dan memutuskan mau mendapatkan buku gambar itu kembali apapun caranya.


Dia langsung mengendap-endap ke ruang guru seperti maling. Tapi anehnya, dia mendapati kertas pengumuman grafik nilai mereka sobek dan berterbaran di lantai. Yang mengejutkan, dia malah mendapati seseorang misterius sedang membakar kertas-kertas itu.

Saat orang misterius itu berpaling padanya, Eun Ho sontak shock. "Daebak! Kau!"

Bersambung ke episode 2

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon