Powered by Blogger.

Content and Images Copyrights by KBS2

Sinopsis Hwarang Episode 17 - 2

Keluar dari ruangan Ui Hwa, Ji Dwi bertemu Sun Woo. Dia ingin menghindar tapi Sun Woo mencegahnya dan mengkonfrontasinya. Sampai kapan Ji Dwi mau melarikan diri? Seharusnya Ji Dwi mengatakan sesuatu padanya. Ji Dwi dengan santainya menyindir, "Bagaimana rasanya pura-pura jadi Raja?"


Kesal, Sun Woo langsung meninjunya, bukankah Ji Dwi lebih tahu bagaimana rasanya. Ji Dwi langsung balas meninjunya dan mengingatkan Sun Woo dia tidak pernah pura-pura jadi Raja.

"Tapi kau juga tidak pernah jadi Raja yang sesungguhnya"

"Jangan berpikir kalau kau tahu segalanya. Aku juga berusaha sebisaku. Aku juga... berjuang"


Sun Woo tertawa sinis mendengarnya. Berjuang? Apakah melarikan diri, bersembunyi dan menghindar yang Ji Dwi sebut berjuang? Ji Dwi mengklaim kalau itu adalah perjuangan agar Silla menjadi lebih baik. "Perjuangan dengan harapan rakyat Silla tidak akan lagi mati karena aturan Silla. Perjuangan untuk melindungi rakyat supaya mereka tidak akan pernah lagi... menjadi pencuri"


Ratu tampak kurang sehat saat dia menghadiri rapat bersama para pejabat. Tuan Kim mengusulkan agar mereka segera menyediakan obat-obatan untuk mengatasi wabah penyakit. Kubu Park Young Shil menentang keras dan menilai kalau mengurusi rakyat kecil itu cuma buang-buang waktu, lebih baik mereka mengurusi urusan negara yang lebih penting.

Tuan Kim mengingatkan mereka kalau wabah penyakit itu bisa menyebar ke Ibukota sewaktu-waktu. Jika mereka tidak bisa mengumpulkan pajak maka pastinya mereka bakalan harus menyumbangkan harta mereka. Kubu Park Young Shil dengan santainya mengusulkan untuk membuka gudang persediaan istana untuk para petani itu.

Park Young Shil bahkan menyarankan agar Tuan Kim memberikan semua miliknya saja untuk membantu para petani itu. Dia sama sekali tidak peduli dengan nasib para petani itu, bahkan sekalipun desa mereka hancur, hal itu tidak akan berimbas pada mereka.


Sementara para pejabat ribut berdebat, Ratu Ji So tiba-tiba berilusi para pejabat itu sedang ribut menuntutnya untuk turun tahta padahal mereka sedang minta pendapatnya untuk mengirim utusan ke Goguryeo. Para pejabat dan Park Young Shil keheranan memperhatikan keanehan Ratu itu.


Ji Dwi dan Sun Woo dipanggil menghadap Ui Hwa. Dia berkata kalau dia ingin menanyakan sesuatu lalu menyuruh A Ro masuk. A Ro langsung membeku melihat Ji Dwi, teringat saat Ji Dwi menyatakan ingin hidup bersama A Ro dan menyerah menjadi Raja. A Ro diminta kesana untuk memberitahu Sun Woo dan Ji Dwi tentang adanya wabah penyakit itu dan susahnya mendapatkan obat-obatan.

Tapi baru-baru ini dia mengetahui kalau obat-obatan itu ternyata di timbun di gudangnya Park Young Shil. Obat-obatan yang Park Young Shil miliki itu cukup untuk mengobati semua orang di Silla, tapi Park Young Shil tidak mau menjualnya bahkan sekalipun obat-obatan itu membusuk dan terus menimbunnya.


Dia yakin kalau Park Young Shil berniat menunggu wabah itu semakin memburuk agar dia bisa menjual obat-obatannya dengan harga selangit. Saat itu terjadi, mungkin para warga di Desa Makmang sudah mati. Sun Woo hanya diam tapi tangannya terkepal penuh amarah.


"Itulah masalahnya. Bagaimana kita harus menyelesaikan masalah ini?" tanya Ui Hwa "Seperti yang kalian dengar, semakin kita tunda, nyawa orang-orang di Desa Makmang akan semakin dalam bahaya"

Masalah ini harus mereka selesaikan bersama karena Ui Hwa merasa kalau mereka berdua sudah banyak merenungkan bagaimana menjadi Raja. Tapi kalau mereka tidak mau yah terserah saja. Dia hanya memberikan mereka sebuah persoalan yang harus mereka pecahkan.

Persoalan ini tidak ada hubungannya dengan lulus atau tidak, jadi terserah mereka mau menyelesaikannya atau tidak. Mereka boleh keluar dari sini dan pura-pura tak mendengar apapun. Keputusan ada di tangan mereka sendiri.


Setelah kedua Hwarang itu pergi, A Ro kesal pada Ui Hwa. Bagaimana bisa memberikan masalah ini pada Ji Dwi dan Sun Woo, apa dia tidak tahu bagaimana temperamen kedua orang itu? Mereka hanya akan bikin masalah.

Justru karena itulah Ui Hwa memanggil kedua orang itu, "Jika kau tidak membuat masalah maka dunia tidak akan berubah. Apa yang akan terjadi, tergantung pada keputusan mereka. Kesadaran mereka mungkin akan bisa sedikit mengubah Silla"


Ji Dwi dan Sun Woo sama-sama merenung. Ji Dwi lah yang bertanya duluan, apa yang akan Sun Woo lakukan? Sun Woo langsung menyindir Ji Dwi, dia pasti tidak akan bisa menyelesaikan masalah ini karena Ji Dwi tidak tahu apa-apa. Ji Dwi tidak tahu bagaimana kehidupan rakyat kecil, dia tidak tahu bagaimana mereka, dia tidak tahu betapa indahnya tempat itu dan kenapa tempat itu sangat berharga untuk dilindungi.

"Aku tahu kalau menimbun obat-obatan dan membuat uang atas nyawa rakyat itu pantas mati. Bukan cuma kau saja, aku juga marah saat aku melihat ketidakadilan"


"Tapi aku tidak tahu seberapa kuat ketetapan hatimu itu"

"Selama hasilnya sama, aku juga bisa memecahkan (masalah) ini"

"Aku punya satu jawaban"

"Aku juga"


Ban Ryu berjalan linglung, teringat saat dia melihat Sun Woo pingsan setelah bertarung dengan para pembunuh malam itu dan peringatan Soo Ho yang bersumpah akan membunuhnya jika dia sampai terlibat dalam insiden itu. Tiba-tiba seseorang melempar batu ke kakinya dan orang itu ternyata Soo Yeon.


Soo Yeon mengaku kalau dia sangat amat merindukan Ban Ryu, karena itulah dia datang. Dia tidak peduli biarpun hati Ban Ryu berubah, dia tidak peduli walaupun Ban Ryu sudah tidak lagi menganggapnya cantik. Dia tetap berterimakasih pada Ban Ryu, karena selama ini dia kira semua pria itu seperti Oraboni-nya. Tapi Ban Ryu telah mengajarinya bahwa ada beberapa pria yang sebaik Ban Ryu.

"Aku hanya ingin melihatmu sekali lagi. Kupikir aku akan bisa melepaskanmu. Tapi melihatmu seperti ini, aku jadi semakin merindukanmu"

Ban Ryu berkaca-kaca mendengarnya. Dia mengepalkan tangannya erat-erat dan berkata "Aku ingin menyakitimu agar saat kau memikirkanku, kau akan mengingat sakitnya dan melupakanku. Aku ingin menyakitimu, harus... tapi aku tidak bisa berpikir saat aku melihatmu. Jadi pergilah. Aku orang jahat. Jadi pergilah sejauh mungkin dariku sebelum kau terluka"

Tapi Soo Yeon menggenggam tangan Ban Ryu dan meyakinkannya kalau dia bukan orang jahat. "Kau orang baik, Ban Ryu"


Ji Dwi dan Sun Woo memberitahu Yeo Wool dan Soo Ho tentang rencana mereka. Yeo Wool ragu melakukannya tapi Soo Ho langsung menyatakan kesediaannya untuk bergabung. Dia akan melakukannya demi dirinya sendiri karena dia merasa dia harus melakukannya, dia tidak akan bisa tidur kalau tidak melakukannya. Yeo Wool pun akhirnya ikut.


Ban Ryu baru tiba di depan kamarnya saat dia mendengar Soo Ho berkata kalau Ban Ryu sebaiknya tidak usah diajak. Yeo Wool mengerti, lagipula yang mau mereka rampok adalah rumah Park Young Shil, Ban Ryu pasti akan mengadukan mereka kalau dia sampai tahu.

Tapi bukan itu alasan Soo Ho tidak mengikutsertakan Ban Ryu, "Ini mungkin bisa menyakitinya. Kita tidak boleh membiarkan itu terjadi. Kita tidak boleh membiarkannya tahu."


Malam harinya, Ui Hwa mulai menjalankan rencana mereka dengan mendatangi rumah Park Young Shil dalam keadaan pura-pura mabuk dan mau mengajak Park Young Shil minum-minum. Dia melihat ada dua orang penjaga yang membuatnya teringat permintaan Sun Woo agar dia mengalihkan perhatian para penjaga rumah Park Young Shil. Sun Woo mengaku tak ingin gagal, dia ingin menyelamatkan orang-orang itu.


Sambil pura-pura sempoyongan, dia mengedarkan pandangannya ke sekeliling dan memperhatikan para penjaga yang berseliweran lalu pura-pura mengeluh sakit perut dan lari mencari toilet. Sontak para penjaga pun langsung mengejarnya/

 

Keempat Hwarang mulai bergerak, Sun Woo dan Ji Dwi bergantian memimpin. Ui Hwa terus berusaha membuat keributan sampai para penjaga harus menyeretnya pergi. Tapi kemudian, si Penjudi menghadang mereka untuk membawa Ui Hwa menghadap Park Young Shil.


Ui Hwa mengklaim kalau dia datang karena dia ingat dengan arak yang pernah Park Young Shil sebut dulu lalu menyinggung banyaknya pengawal yang Park Young Shil miliki. "Tolong kirimkanlah beberapa dari mereka ke Rumah Hwarang. Baru-baru ini ada pembunuh yang masuk ke Rumah Hwarang dan menyerang para Hwarang."

Saat Park Young Shil tak menanggapinya, Ui Hwa langsung menyindir "Kenapa? Ah, apa anda sudah mengirim mereka?"


Ban Ryu mendobrak rumah Park Young Shil dengan membawa pedang dan obor sambil berteriak-teriak memanggil ayahnya (Park Young Shil), sepertinya dia mabuk. Si Penjudi dan para pengawal pun langsung membawanya ke Park Young Shil. Dia berlutut di hadapan Park Young Shil dan memohon agar Park Young Shil membunuhnya saja.

Rasanya sakit hingga dia mabuk-mabukan. Park Young Shil mengadopsikan sejak dia kecil dan punya rencana besar untuknya, tapi yang dia lakukan hanyalah mengecewakan Park Young Shil. "Rasanya tak tertahankan. Bahkan para pembunuh yang datang ke Rumah Hwarang..."

"Tutup mulut!" bentak Park Young Shil, cemas karena omongan Ban Ryu didengar oleh Ui Hwa.


Gara-gara kedatangan Ban Ryu, para pengawal tak ada yang berjaga di luar. Para Hwarang akhirnya berhasil menerobos ke gudang dan menemukan berpeti-peti besar tanaman obat di sana. Ji Dwi gregetan menyadari kalau Park Young Shil benar-benar memiliki emas dan obat-obatan jauh lebih banyak daripada Keluarga Kerajaan. Dan di atas semua itu, dia adalah pejabat tertinggi dalam pemerintahan.

"Inikah aturan di negeri ini?" tanya Sun Woo

"Tidak"

Tidak punya banyak waktu, mereka pun mulai bergegas memasukkan obat-obatan itu kedalam karung.


Ban Ryu semakin menggila dengan menempelkan pedang ke lehernya sendiri dan menyatakan kalau dia mau mati di sini. Park Young Shil memerintahkan para pengawal membawa Ban Ryu pergi. Tapi Ban Ryu langsung menghunuskan pedang ke mereka, melarang mereka mendekatinya sambil menyatakan dirinya sebagai Raja Silla. Ui Hwa terkekeh, jadi rencana besar Park Young Shil adalah menjadi Raja Silla.


Soo Ho dan Yeo Wool sukses mengeluarkan dua buah karung besar lalu melompat keluar. Ji Dwi dan Sun Woo menyusul tak lama kemudian dan melempar dua buah karung besar berikutnya. Tapi saat mereka hendak melompati pagar, si Penjudi muncul bersama anak buahnya yang sangar.

Sun Woo mau menyerang mereka, tapi Ji Dwi mencegahnya. Dia yang harus balasn dendam duluan karena dulu dia ikutan digantung padahal dia tidak mengenal mereka. Sementara Ji Dwi berjuang melawan si pengawal sangar, Ban Ryu berjuang melepaskan diri dari cengkeraman anak-anak buahnya Park Young Shil.


Tentu saja kemampuan Ji Dwi sekarang semakin meningkat hingga dia berhasil mengalahkan si pengawal sangar dengan mudah. Si Penjudi mengeluarkan belatinya dan menyerang Ji Dwi. Tapi dia sama sekali bukan tandingan Ji Dwi yang kontan melumpuhkannya dengan mudah. Mereka lalu pergi.


A Ro sendirian di rumah saat pelayan Ratu datang dan menyeretnya paksa ke istana.


Ahn Ji tampak mulai menyerah saat sebuah gerobak datang dengan membawa banyak karung berisi obat-obatan. Di dalamnya, ada sebuah pesan 'Minum dan tertawalah terbahak-bahak'. Ahn Ji langsung tahu siapa yang mengirim semua ini.
 

Yeo Wool bertanya-tanya kenapa Ban Ryu membuat keributan semalam... kebetulan sekali. Ban Ryu datang saat itu tanpa menyapa semua orang. Soo Ho mengucap terima kasih padanya dan Ban Ryu hanya menanggapinya dengan senyum singkat.


Ratu Ji So termenung, teringat pertemuannya dengan Hwi Kyung dimana waktu itu dia mengaku kalau terkadang dia penasaran bagaimana seandainya Hwi Kyung yang mengambil alih tahta. Jika seperti itu, mungkin dia tidak perlu menyerah akan banyak hal dan tidak harus bertahan dalam masa-masa yang sangat kejam.

Flashback 20 tahun yang lalu,


Ratu Ji So dengan berlinang air mata, menghunus pedang ke salah seorang Wonhwa (Mungkin Joon Jung) dan mengklaim kalau Wonhwa yang menghambat kekuatan Keluarga Kerajaan harus dimusnahka.

"Kau harus mati seperti Nam Mo. Kau yang harus disalahkan. Aku harus membunuhmu... demi putraku," Ratu menangis saat menancapkan pedang itu ke dadanya.

Flashback end.


Sun Woo merenung di aula saat Ji Dwi mendatanginya dengan panik, "A Ro dibawa ke istana."


A Ro dibawa menghadap Ratu Ji So yang memberitahunya kalau Sam Mek Jong mau mengambil alih tahta. Putranya dulu tidak seperti itu, dulu dia Raja yang baik yang menunggunya untuk menyerahkan Silla kepadanya. "Apa kau yang membuatnya berubah jadi seperti itu?"

Mencengkeram A Ro kuat-kuat, Ratu berteriak "Apa kau menghasut Sam Mek Jong? Seperti yang pernah dilakukan Ibumu pada Ayahmu!"

A Ro gemetar ketakutan menyangkal tuduhan Ratu. Terserah lah. Ratu tidak peduli, dia akan tetap menjadikan A Ro sebagai Wonhwa dan membuat A Ro menemui takdir seorang Wonhwa.

Bersambung ke episode 18

4 comments

Min mw tanya, wohwa itu apa ya?

Akhirnya sinopnya sdh ada,, he
Sama ku jg mau nanya wonhwa itu apa ? Sama dg selir bukan? :-)

Won hwa tu pasukan wanita(bunga sejati)
Dan juga
Raja Jinheung membubarkan Won Hwa dan mengaktifkan pasukan pria dengan nama ‘Hwarang’

Jadi ke inget ama mishil di queen seondeok



Bkn nya mishil tu won hwa juga ya

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon