Powered by Blogger.

Content and Images Copyrights by KBS2

Sinopsis Hwarang Episode 5 - 1


Sun Woo tersadar dari pingsannya dan mendapati dirinya terikat dan tergantung di langit-langit. Dia berakhir seperti ini setelah salah satu anak buah preman menghantam belakang kepalanya sampai dia pingsan.


Di sampingnya, dia mendapati Raja masih pingsan dalam keadaan sama sepertinya. Saat Raja akhirnya sadar, dia langsung panik bukan main. Sun Woo menasehatinya untuk diam saja daripada terjatuh dan kepalanya pecah.

Dia tidak mengerti kenapa Raja membuntutinya. Raja langsung mendengus sinis mendengarnya. Mungkin para preman itu mengira mereka teman karena seragam mereka.


Raja menasehatinya untuk tidak bersama gadis bernama A Ro itu, gadis itu kelahiran darah campuran. Kalau Sun Woo sampai terlihat bersamanya, maka dia akan turun kasta. Karena gadis itu yang membuat mereka berakhir seperti ini, gadis itu pasti pembawa sial.

Kesal, Sun Woo langsung mengayunkan dirinya dan menendang Raja. Jadilah kedua orang itu ribut saling bergelut dan menyerang satu sama lain.


Para anggota Hwarang yang lain sudah tiba dan berbaris di tempat upacara. Para penonton pun mulai berkumpul dan Ahn Ji ada diantara mereka. Melihat Ban Ryu, seorang Hwarang langsung menyindirnya. Soo Ho juga ikut menyindirnya, mengatainya puppy-nya Ratu.

Temannya Ban Ryu langsung emosi, tapi Ban Ryu menghentikan mereka dan berusaha menahan emosinya sendiri. Dia tidak bisa berbuat apa-apa saat Park Young Shil sedang memperhatikan mereka.

Yeo Wool menggumam sinis saat melihat para menteri baik yang memihak Ratu maupun yang menentang Ratu berkumpul jadi satu.


Ratu Ji So pun akhirnya datang dengan senyum puas. Sambil melirik ke arah Young Shil, Ratu membatin, "lihatlah. Mereka adalah Hwarang-ku, jangan pernah lupa sedikitpun. Mulai sekarang, nyawa putramu ada dalam kekuasaanku."

Young Shil membalasnya dengan senyum percaya diri dan membatin, "jangan senang dulu. Akan segera kutemukan Raja dan kucopot tahtanya"

Tapi Ratu melihat tempat Sun Woo masih kosong. Ui Hwa juga melihat tempat Ji Dwi (mulai sekarang Raja akan saya panggil Ji Dwi) masih kosong. Ratu dan Ui Hwa jadi cemas, kemana kedua orang itu.


Tentu saja mereka masih terikat di sana. Ji Dwi kaget mengetahui A Ro adalah adiknya Sun Woo. Memangnya kenapa Ji Dwi peduli A Ro itu adiknya atau bukan? Ji Dwi menolak menjawab dan mengalihkan topik agar mereka sebaiknya mencari cara untuk melarikan diri dari sini.

Memperhatikan keadaan tempat ini, Sun Woo menduga mereka ada di tempat penyembelihan daging. Melihat banyaknya pisau di bawah, mungkin para preman itu berencana membunuh mereka.


Ketua preman memutuskan agar sebaiknya Sun Woo tidak dibunuh dulu agar mereka mendapatkan bayaran yang setimpal. Sementara pria yang satunya dan gadis itu, sebaiknya dibunuh saja dan pastikan tidak ada yang mengetahuinya.


Keadaan mulai heboh saat upacara masih belum dimulai. Ahn Ji juga mulai cemas. Hanya Soo Ho yang santai berdiri di sana, terpesona oleh kecantikan Ratu. Dia baru mengalihkan pandangannya saat temannya menegurnya. Acara sudah tidak bisa ditunda lagi, terpaksa Ratu Ji So harus memulai upacaranya.


Sun Woo masih berusaha keras melepaskan diri, sementara Ji Dwi bersiul-siul entah untuk apa. Seorang preman sangar masuk tak lama kemudian dengan membawa kapak. Ji Dwi langsung panik, apalagi si preman langsung mengayunkan kapak ke arahnya.

Saat Ji Dwi tengah berusaha menghindari sabetan kapaknya, Sun Woo akhirnya berhasil melepaskan salah satu tangannya dari ikatan dan menyuruh Ji Dwi menendang kapaknya. Ji Dwi berhasil menendangnya saat si preman mengayunkan kapaknya lagi.



Kapak itu pun melayang ke udara dan mendarat mulus di tangan Sun Woo. Sun Woo akhirnya berhasil terlepas dan terjatuh. Dia berusaha menonjoki si preman sekuat tenaga, tapi si preman sama sekali tak bergeming. Bahkan saat Sun Woo menendangnya, malah dia sendiri yang terpental.


Sun Woo berusaha bertahan dengan paha daging yang sangat besar lalu menghantamkannya ke itunya si preman. Ternyata usahanya sukses, si preman sangar pun tumbang.


Sun Woo hendak pergi meninggalkan Ji Dwi, apalagi Ji Dwi masih sok main perintah padanya. Ji Dwi terpaksa menelan harga dirinya dan memohon agar Sun Woo melepaskannya.

Ketua preman sendiri sedang menghampiri A Ro saat tiba-tiba saja dia mendengar suara gedebuk dari gudang satunya. Tapi saat mereka kesana, mereka hanya mendapati si preman sangar sudah pingsan.


Tapi tiba-tiba Sun Woo meluncur dari atas dan menendang si ketua preman. Ji Dwi pun muncul kemudian dan melawan beberapa preman. Bersama-sama, mereka berdua kompak mengalahkan semua preman.


Begitu semua preman itu kalah, mereka langsung keluar mencari A Ro. Mereka menemukannya di salah satu gudang. Tapi A Ro panik bukan main, mengira mereka preman. Ji Dwi berusaha melepaskan ikatan mata dan mulutnya tapi A Ro terus menggeleng-gelengkan kepalanya dengan panik hingga tak sengaja dia menghantam kepala Ji Dwi.

"Ini aku. Ini aku." ujar Sun Woo. A Ro pun mulai tenang seketika.

Begitu ikatan matanya terbuka dan melihat Sun Woo, A Ro langsung memeluknya dan menangis. "Kukira kau akan mati. Aku takut kau akan mati."

Sun Woo tersentuh mendengar kekhawatiran A Ro padanya. Dengan canggung, dia membelai kepala A Ro dan berusaha menenangkannya. Ji Dwi tampaknya cemburu dengan kedekatan mereka dan langsung menyela untuk mengingatkan mereka pergi sekarang.


Mereka mulai panik saat terdengar suara para preman. Ji Dwi membantu A Ro berdiri tapi karena sudah tak ada waktu untuk melepaskan ikatan A Ro, Sun Woo langsung menggotong A Ro pergi dari sana.

Melihat mereka sudah dikepung, Ji Dwi menyuruh mereka pergi duluan sementara dia menghadapi para preman itu seorang diri.


Sun Woo mendudukkan A Ro di tempat aman dan setelah melepaskan ikatannya, dia menyuruh A Ro untuk pergi dari sana. Dia sendiri mau kembali untuk membantu Ji Dwi. Tapi A Ro terlalu ketakutan dan mencegahnya pergi.

"Kalau kau takut, berhitunglah sampai 200. Aku akan kembali saat itu."

"Aku hanya akan menghitung sampai 150. Jadi jangan terluka dan kembalilah secepat mungkin." ujar A Ro dengan masih menggenggam tangan Sun Woo erat-erat.


Sun Woo mengangguk lalu berlari kembali ke Ji Dwi. Dia hampir kewalahan melawan sekumpulan preman itu, tapi Sun Woo tiba-tiba datang menyelamatkannya. Ji Dwi langsung menggerutuinya. Sun Woo mengacuhkan omelannya dan langsung beraksi menyerang para preman itu.

Mereka berusaha melawan semua preman itu dengan tangan kosong. Tapi pada akhirnya mereka berhasil dilumpuhkan. Ji Dwi masih sempat bersiul sebelum dia dibanting. Dan sesaat kemudian, beberapa panah misterius tiba-tiba melesat dan menusuk para preman itu.

Ji Dwi dan Sun Woo pun punya kesempatan untuk kabur. Si pemanah misterius itu ternyata Pa Oh yang menembaki mereka dari persembunyiannya. Ketua preman marah dan Pa Oh langsung menembakkan anak panahnya hingga mengenai bahu si Ketua preman.


Upacara dimulai dengan penobatan Ui Hwa sebagai ketua instruktur Hwarang. Lalu dilanjutkan dengan pemberian pedang satu per satu pada para anggota Hwarang. Para gadis-gadis bertepuk tangan heboh dan para ayah melihat anak-anak mereka dengan bangga.

Tersisa dua pedang tapi kedua orang itu masih saja belum muncul. Para menteri mulai bosan dan kesal. Ratu melihat Ahn Ji diantara para penonton dan mengira kalau Sun Woo melarikan diri.


Ia hendak menutup acara saat tiba-tiba saja gerbang terbuka. Sun Woo berjalan masuk duluan lalu disusul Ji Dwi. Ratu Ji So langsung shock melihatnya. Ji Dwi maju duluan untuk menerima pedangnya. Saling menatap satu sama lain, Ratu dan Ji Dwi seolah saling berkomunikasi dalam batin.

"Teganya kau melakukan ini kepadaku."

"Aku memutuskan bahwa akulah yang akan memutuskan kapan aku akan menunjukkan diriku pada dunia, Ibu."


Sun Woo maju untuk menerima pedangnya. Tapi dia terdiam ragu saat namanya dipanggil sebagai Kim Sun Woo. Teringat kenangan indahnya bersama Mak Moon, Sun Woo bertanya-tanya dalam hatinya, bisakah dia hidup sebagai Kim Sun Woo. Tapi akhirnya dia menerima pedangnya dan menyatakan kesediaannya menjadi Hwarang.


Ratu Ji So pun meengakhiri upacaranya dengan mengeluarkan pedangnya, "Hwarang adalah perwakilan dari keyakinan baru Silla. Silla bukan lagi negeri kecil. Kita harus menjadi yang terkuat diantara Tiga Kerajaan. Hwarang, abdikan diri kalian pada Silla dan Raja Jinheung."

Para Hwarang pun serempak mengeluarkan pedang-pedang mereka dan mengucap sumpah pengabdian pada Silla dan Raja Jinheung. Para gadis bersorak dan bertepuk tangan riuh untuk mereka.


Sun Woo pulang bersama Ahn Ji malam harinya sambil menceritakan kejadian yang menghambatnya datang ke upacara. Dia dan preman itu memang punya masalah di masa lalu. Tapi dia sama sekali tidak mengerti kenapa preman itu mengejarnya. Sun Woo sungguh merasa bersalah karena membuat A Ro dalam bahaya.

"Jangan membahayakan A Ro. Jika kau melakukannya, aku tidak akan pernah memaafkanmu. Kau sudah tidak bisa mundur sekarang. Kau sekarang anak Kim Ahn Ji dan seorang Hwarang. Apapun yang kau lakukan, sekarang menjadi urusanku."

"Saya mengerti hidup siapa yang sedang saya jalani."


A Ro masuk ke kamar Sun Woo tepat saat Sun Woo barusan mencopot bajunya. A Ro langsung menundukkan pandangannya dengan canggung sementara Sun Woo santai-santai saja. A Ro  mau memanggil Sun Woo dengan sebutan orabeoni, tapi dia terlalu canggung dan akhirnya mengalihkan topik membahas hal tidak penting lalu membawa pergi bajunya Sun Woo yang robek untuk dia jahit.


Sun Woo tidak bisa tidur. Tapi saat dia mau keluar, dia melihat A Ro di luar sedang menjahit bajunya. A Ro mencoba berlatih mengucapkan orabeoni. Dia mengucapkannya dengan lancar sekarang, tapi kenapa susah sekali mengucapkannya di depan Sun Woo. Sun Woo tersenyum geli mendengarnya.

Dia begitu terpesona melihat A Ro. Tapi tiba-tiba A Ro teringat sesuatu dan menoleh ke arahnya. Sun Woo buru-buru menutup pintunya dan pura-pura tidur saat A Ro masuk kedalam kamarnya.


A Ro datang membawa sebuah kotak obat. Mengira Sun Woo sudah tidur, dia menggenggam tangan Sun Woo yang terluka. Perlahan dia membuka perbannya sambil mengaku ada sesuatu yang ingin dia katakan pada Sun Woo.

A Ro hampir menangis haru saat melihat luka Sun Woo, luka yang membuatnya teringat saat Sun Woo mencengkeram pisau itu demi menyelamatkannya. Sambil mengobati lukanya, A Ro akhirnya memanggilnya orabeoni.


"Terima kasih karena kau datang untuk menyelamatkanku. Selama bertahun-tahun, aku hidup dengan berpikir bahwa aku tak punya siapapun untuk diandalkan dan tak punya apapun untuk diharapkan. Ini pertama kalinya aku ingin melakukan itu untuk seseorang. Aku senang... memiliki seorang kakak."

A Ro sama sekali tidak sadar kalau Sun Woo mendengar semua pengakuannya. A Ro mengaku ini pertama kalinya dia merasa seperti ini. Sejujurnya, dia merasa takut dan bertanya-tanya apakah ini benar.

"Tapi karena kau adalah orabeoni. Karena kau benar-benar kakakku, jadi jangan terluka. Kuharap kau tidak akan terluka lagi."


Dia hendak beranjak pergi setelah memperban luka Sun Woo. Tapi Sun Woo mencegahnya dan mengaku kalau dia ketakutan karena A Ro. "Aku takut aku akan membahayakanmu dan tidak bisa melindungimu. Ini pertama kalinya bagiku. Percayalah padaku dan bersandarlah padaku. Kau sekarang tidak sendirian."

Bersambung ke part 2

Terima kasih telah membaca sinopsis di Drama Diary dan mohon untuk TIDAK COPY PASTE sinopsis dari blog Drama Diary dalam bentuk dan alasan apapun.
Terima kasih ^_^
EmoticonEmoticon